Tuesday, 1 November 2016

Social Media in My Life

Twitter is where I see what's on the news and where I almost never tweet (or retweet) that people don't think I even have an active account.

Instagram is where I post my best photographs and where I pretend to be a professional photographer or a professional model.

Path (the app of which I have deleted from my phones) is where I tell my limited friends about what I read, watch, listen and what places I visit and where I post some funny memes and where I write some nonsense and also where I see many friends bragging about their life.

Facebook is where I can do anything and be myself but never show the craziest side of me to avoid any confrontation.

Line is where I can talk about anything, be myself, and show the craziest side of me cause there are not so many friends on the list thus the confrontation can be avoided without too much effort. It is also where I can shout. And the best part is the word limitation is lengthened so I can have more freedom in expressing myself.


Fragment #6

Cewek: Cepet kerjain skripsinya donk, Sayang. Jangan maen game terus.

Cowok: Iya iya... (sambil main game di HP)

Cewek: Dari kemarin gak selesai-selesai.

Cowok: Iya, ini juga lagi dikerjain kok (sambil terus main game di HP)

Cewek: Ngerjain apa? Main HP terus gitu. Dasar procrastinator!

Cowok: He, kamu sendiri kan tau aku bahkan udah jadi procrastinator dari orok. Saat bayi-bayi lain udah pada lahir, aku masih enak-enakan 3 minggu di perut ibuku.

Cewek: Selalu deh menghubung-hubungkan sama hal yang nggak nyambung.

Cowok: Kamu sih, udah tau aku nggak suka dipanggil gitu, masih aja. Lagian, asal kamu tau, kalau aku bukan procrastinator, aku udah macarin kamu sejak SMA, dan bukannya waktu kuliah.

Cewek: Lho, waktu SMA aku kan emang masih pacaran sama Erwin.

Cowok: Lah, ngapain malah bawa-bawa Erwin? Nyesel ya putus sama Erwin trus jadian sama aku?

Cewek: Siapa sih yang bawa-bawa soal SMA tadi? Kamu kan? Lagian siapa yang nyesel? Yang kemarin biar aja lah, nggak usah diungkit-ungkit.

Cowok: Lah, kamunya kan yang ngungkit. Pake nyebut Erwin segala.

Cewek: Kamu selalu kaya gini. Aku kan cuma minta tanggung jawab kamu. Orangtuaku udah nanyain terus. Kapan kamu lulus? Akunya udah kerja satu setengah tahun ini, masa kamu skripsi satu aja belum kelar.

Cowok: Eh, gini ya. Bukannya aku nggak berusaha. Nyelesaiin skripsi itu nggak semudah itu lho.

Cewek: Aku skripsi kelar satu semester. Dapat A pula.

Cowok: Itu kamu. Yang pinter, jenius, luar biasa. Tapi apa kamu pernah mikirin gimana aku ngerjain skripsi? Nambahin 100 kata aja bisa seminggu. Bayangin!! Kamu tau gimana susahnya nemuin dosenku. Belum lagi TOEFL-ku yang ancur banget. Tau sendiri kan aku payah bahasa Inggris-nya. Pernah kamu tanyain gimana kondisiku? Pernah kamu tanyain aku butuh apa? Pernah kamu tanyain apa kesulitan-kesulitanku? Pernah kamu tanyain kenapa aku nge-game terus kaya gini? Nggak pernah. Kamu nggak peduli. Kamu cuma pingin aku lulus, trus kerja, trus nikahin kamu. Titik. Itu aja yang ada di otakmu. Kalau kamu udah nggak tahan sama aku, udah nggak sanggup nungguin aku, udah nggak kuat ngrasain tingkahku, trus ngapain dipertahankan?

Cewek: Bukan gitu maksudku. Aku tetep pengen sama kamu. Aku cinta sama kamu.

Cowok: Alah.. Pake ngomong cinta lagi. Udah kamu sebaiknya keluar dari kamarku. Trus pulang. Percuma kan kamu di sini. Akunya stres, kamunya juga stres. Mending kita menghibur diri sendiri dulu kali ya. Aku mau nge-game lagi. Kalau kamu mau spa atau facial atau nonton film, silahkan. Kan udah kerja 1.5 tahun. Uangnya pasti banyak banget.

Cewek: Kenapa kok aku jadi pihak yang kayaknya jahat banget ya.

Cowok: Sudah. Please. Tolong keluar dari kamarku dan datang lagi kalau otak kita udah satu frekuensi.


----

#fragment


Friday, 7 October 2016

Tiga Hukuman Bapak yang Paling Menakutkan

Bapak adalah orang yang disiplin dan bisa dibilang cukup keras dalam mendidik anak-anaknya. Yang kuingat, kami sering dapat marah jika melakukan kesalahan atau ketika melakukan tindakan yang kurang disiplin seperti menaruh sepatu tidak pada tempatnya.

Dan yang namanya anak-anak, aku memang termasuk anak yang nakal. Walaupun tahu bapakku keras dan akan memberi hukuman untuk beberapa kesalahan yang dianggapnya melebihi batas, aku toh tetap saja sering membuat bapak jengkel.

Apalagi jika adikku membuatnya jengkel juga. Mungkin kejengkelan kuadrat ini yang pada akhirnya membuatnya muntab.

Berbicara mengenai hukuman, ada tiga jenis hukuman yang menurutku paling mengerikan dari sekian banyak hukuman yang pernah diberikan bapak: disamblek, di-PPO, dan dibleng.

Disamblek adalah kata bahasa jawa untuk dicambuk. Dalam hal ini, yang digunakan bapak untuk mencambuk ada sebatang lidi aren. Bapak memang suka membuat penebah kasur dari lidi aren yang dia cari sendiri dari pohon aren di tegalan belakang rumah.

Dan ketika aku bandel yang pada akhirnya membuat kejengkelan bapak memuncak, bapak akan memanggilku, memegang bahuku dengan tangan kirinya, dan memecut pantatku sekali dua kali dengan sebatang lidi aren di tangan kanannya. Pukulan itu terasa panas. Tapi kupikir bapak juga tidak memecutku sekeras yang kuduga karena jika keras pastilah pecutan lidi itu akan membekas dan rasa panasnya tak akan secepat itu menghilang.

Bapak tentu hanya ingin mengajarkanku kedisiplinan dan tak sepenuhnya ingin menyakitiku.

Hukuman kedua adalah di-PPO yang berarti mengoleskan minyak PPO (pappermint oil) Cap Kapak—ke bibirku. Satu olesan saja sudah cukup untuk membuat si anak bandel kapok.

Kulit tipis dan sensitif bibir yang bertemu dengan rasa panas dari minyak PPO membuat si anak bandel kalang kabut. Dan meskipun dibasuh dengan air, rasa panas dan getir dari minyak PPO ini tak bisa hilang dengan mudah. Selama beberapa menit ke depan, siapapun yang kena hukuman PPO pasti akan sangat menderita.

Tak hanya aku dan saudaraku saja yang pernah kena hukuman PPO. Kucing-kucingku yang suka susah diatur sering juga jadi korban keganasan PPO bapak. Misalnya, jika kucingku kepergok mencuri ikan, meninggalkan bangkai tikus yang baru dimakan di dalam rumah, atau poop sembarangan, bapak akan segera meraih kucing itu pada bagian cengel (belakang leher)-nya dan mengusapkan PPO ke seluruh bibirnya.

Kucing tersebut pasti akan kalang kabut seperti halnya si anak bandel. Dia kemudian akan menepi di pojokan dengan liur yang terus menetes, sebagai upayanya mengusir rasa getir dan panas dari minyak PPO di bibirnya.

Hukuman ketiga dan seingatku paling jarang kudapat tapi justru paling mengerikan adalah dibleng, yaitu dikurung di dalam kamar selama periode waktu tertentu. Aku pernah dibleng di kamar etan (kamar timur), yaitu kamar yang memang kala itu jarang dipakai. Kamar itu gelap dan pengap. Dan meskipun siang, dengan jendela yang tertutup kamar itu akan terasa sangat mengerikan.

Aku ingat bapak mendorongku ke dalam kamar itu dengan muka marah, entah apa yang kuperbuat sebelumnya. Pintu lalu dikunci dari luar dan aku yang sendirian di dalam kamar merasa sangat ketakutan. Aku menangis sambil menggebrak-gebrak pintu, meminta belas kasihan bapak agar dibukakan pintu itu. Tapi percuma.

Aku membuka jendela yang sudah agak seret untuk dibuka saking jarangnya kamar ini digunakan. Dan meskipun ada cahaya masuk sehingga ruangan tak semengerikan sebelumnya, fakta bahwa aku akan berada di ruangan itu sendirian selama beberapa menit atau jam ke depan (tergantung keputusan bapak) tetap membuatku nelangsa.

Aku ingat aku menangis sesenggukan hingga kecapekan. Tapi aku tak ingat bagaimana aku akhirnya keluar dari kamar. Mungkin ibu yang membukakan pintu. Dan aku juga tak ingat pula berapa kali aku pernah dibleng seperti itu.

Sepanjang masa kanak-kanakku, bapak selalu mengancamkan salah satu dari tiga hukuman ini jika aku nakal, bandel, dan susah diatur. Jika aku beruntung dan manut perkataan bapak, ancaman hanya tinggal ancaman. Jika aku tetap bandel, tinggal tunggu waktu sampai salah satu dari tiga hukuman itu terlaksana.


Thursday, 23 June 2016

Aku dan Radio

Aku hobi mendengarkan radio. Waktu awal kuliah, hampir setiap hari aku dan sahabatku mendengarkan radio. Dan waktu itu, aku pun jadi sangat menyukai salah satu program di salah satu radio terbesar di Surabaya. Hingga kemudian, aku malah jadi terobsesi dengan salah satu penyiarnya, sebut saja Mr. F. Aku jadi pengen ketemu dan pengen tahu seperti apa orangnya.

Sahabatku kemudian mendapat info bahwa Mr. F itu ternyata satu jurusan denganku (was it a coincidence?) tapi dia dari angkatan tua. Suatu hari, ketika aku sedang berada di suatu kelas entah apa, sahabatku yang saat itu bolos mengirim SMS: Mr. F ada di lantai 2. Dia pake kemeja kotak-kotak hitam merah, pake tas ransel, pake kacamata.

Aku langsung deg-degan. Aku memberanikan diri izin ke dosen untuk ke kamar mandi. Kemudian dari ruang kelas di lantai 3 tersebut, aku setengah berlari menuruni tangga menuju lantai 2.

Dan disana, di tempat duduk di pinggiran selasar lantai 2, lelaki dengan kemeja kotak-kotak dan kacamata ber-frame hitam tebal sedang duduk sambil memandangi hapenya. Dia menangkat wajah sebentar ketika mengetahui ada orang mendekat. Tidak, aku tidak mengajaknya ngobrol. Aku hanya menatapnya, mengamati wajahnya sekilas sambil berjalan melewatinya, berusaha sebisa mungkin terlihat natural.

Aku kembali ke kelas dengan dada yang masih bergemuruh. Akhirnya aku tahu Mr. F itu seperti apa. Aku merasa puas, tapi tebakanku rupanya meleset. Dari suaranya, semula aku menebak bahwa Mr. F itu sedikit gendut dengan muka yang chubby. Kenyataannya, Mr. F (sedikit) terlalu ganteng dibandingkan ekspektasiku. Bahkan, kalau mau jujur, justru Mr. F malah sebenarnya memiliki postur tubuh yang mendekati perfect. Aku dan sahabatku kemudian menjulukinya manekin berjalan karena setiap hari, dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia selalu memakai barang-barang yang bermerk yang terlihat mahal dan—menyebalkannya—bener-bener fit on him.

Akhirnya, aku malah bisa satu kelas dengan Mr. F di beberapa matkul karena dia yang angkatan tua itu masih harus banyak mengulang. Dan anehnya lagi, aku, sahabatku, dan Mr. F akhirnya bisa ketemu dalam suatu kegiatan ekstrakurikuler, meskipun tak lama. Dari kegiatan itu, aku bisa berada sangat dekat dia, berbincang secara tak langsung dalam suatu forum kecil, dan aku berusaha sebisa mungkin tetap menjadi secret admirer yang tak mau ketahuan.

Oh, ya, ada satu hal lucu tentang Mr. F. Dia merasa bahwa aku dan sahabatku itu harus selalu bersama setiap saat. Jadi, jika dia suatu kali berpapasan dengan aku atau sahabatku yang lagi jalan sendirian, dia biasanya akan bertanya: satunya mana?

Meskipun sekarang aku sudah tidak pernah bertemu dia dan sudah tidak pernah mendengarkan suaranya di radio, aku selalu merasa bahwa perjumpaanku dengan Mr. F merupakan suatu fenomena alam yang luar biasa dan penuh dengan coincidence. Or was that ever a coincidence?


Monday, 4 April 2016

Fragment #5

Girl: So, your name is Paul?

Boy: Yes, my name is Paul.

Girl: And where you exactly come from?

Boy: (Smile) Can you guess where I exactly come from?

Girl: Well, hmm, okay. At first glance, you look more like a Caucasian. But, if I look at you more closely, I find that you also have the Asian look in you. Your eyes are somewhat narrowed at the end, or slanted, like a Chinese. But, your nose, your eyebrows, and the slight of your eyes remind me of Middle Eastern people, but not exactly the Arabs.

Boy: Nice observation. I am a Russian citizen. My mother came from a small country in Europe and my father came from a country in the Middle East. They both live in Russia now. But I can’t tell you the name of the countries they came from. At least, not now. And yes I am not Arab, I am of different ethnicity. And I speak Persian. My father's dialect is part of the Persian language. But I really like the way you observe me. Really good job you did.

Girl: (smile). But I guess everyone here will think that you are pure Caucasian and most of them will think that you come from United States, which is kinda funny coz you're not at all American. And I am sure that you have got used to being called “Bule”.

Boy: Ah… Yes, that word. Bule. I like it.

Girl: And, you said you’re a Muslim?

Boy: Yes, I am. My parents are both Muslims. My mother has been a Muslim long before she got married to my father. They met in my mother's hometown. And then we moved to my father's country when I was 12. We finally moved to Russia when I was 19.

Girl: Okay, such a long journey...

Boy: We're Muslims, yes, but our Islam is a bit different with yours.

Girl: What you mean?

Boy: Well, there are actually two biggest branches of Islam: sunni and shia. You know that?

Girl: Hmm, not really... I don't think there are sects in Islam.

Boy: But, if you have to say, which one do you think your Islam is?

Girl: Hmm... sunni... maybe?

Boy: I guess so because all of my Indonesian friends are sunni followers.

Girl: So, you are the shia follower?

Boy: Exactly. But it can be a bit frightful for anyone to follow this religion, including me, even in my father’s country.

Girl: Oh really?

Boy: Don’t you know that there’s been a great civil war because of this difference?

Girl: No, I don’t know. I don’t know anything about that.

Boy: You are too nice to know about that. The war was horrible.

Girl: Oh, I am so sorry to hear that.

Boy: But as long as you’re fine to friend me despite this difference, I will be more than happy.

Girl: Yes, of course. Anyone can be my friend. I will respect you as well as you will respect me.


----

#fragment


Friday, 25 March 2016

Lirih....

Aku ingin membisikkan

Lirih demi lirih suara yang tak terdengar

Pada telingamu, Sayang


Thursday, 24 March 2016

Fragment #4

Boy: Hey, I'm so happy today.

Girl: Oh ya? What happened?

Boy: I had a surgery on a boy with a brain tumor and he survived it.

Girl: Good job, Mr. Surgeon. Thank God the boy survives.

Boy: I dunno which gods you mean, but the success of the surgery was due to the technology used and the surgeon and nurses and doctors contributing there. You can still thank your god anyway, but I'm not sure if your god was there or not.

Girl: Wowowowowow.... Is that what you think, Mr. Atheist?

Boy: Yes, exactly.

Girl: So, it means that you really don't believe in God?

Boy: I dunno. It's just that the surgery doesn't have anything to do with god. You should have thanked me, instead of god.


----

#fragment


Wednesday, 23 March 2016

Why Do You Wear Veil?

A classic question that I do not always have the guts to answer honestly: 'Why do you wear veil?'

Well, yes, though I am not really devoted to it (and though maybe many people don't even consider what I wear veil), I can be called 'a lady with veil' cause I wear it in most of the public spaces.

The reasons to wear veil can vary among women. They might merely say 'I got the calling from God' or 'I feel calmed and relieved when I am wearing it'. Some others might say that it is what the religion (or God) wants them to do. Some say that they do it because their parents want it.

While for me, my reason is a bit cheesy. I wear veil for the goodness of men. Once in my life, an important man in my faculty said that even the Quran recitation of the most pious men can be disturbed (without they wanting it) when they see the glimpse of a woman's hair or other particular parts of the body. This is quite a whip for me.

Well, I can say that I wear veil because I don't want to foil a man's Quran recitation by letting them see my hair (which I don't know is quite tempting or not), my cleavage (which I sure will show if I don't wear veil), my neck (which I am sure is one of the sexiest parts of my body), my thighs (which I sure will show by wearing hot pants if I don't wear veil), and my back (which I sure will show by sometimes wearing a backless dress if I don't wear veil).

Though I am not as perfect as my religion expects me to be, what I am doing is enough to save a man from failing his Quran recitation.

Well, that is the most honest reason I can tell you. Like it or not, it is what it is.


NB: Hopefully, I can say that I am now preparing myself for a bigger Hijra.


Thursday, 17 March 2016

Angin

Pada angin yang menjentik perih,

Pada maruta yang mengkasai luka,

Pada prahara yang mengabrik pilu,

Pada pawana yang menderma ria,

Pada riwut yang memercik murka,

Pada braja yang mengapii rindu,

Pada sindhung yang menggulai maja,

Pada samirana yang menggelorakan b'rahi,

Pada hawa yang memanjai indera,

Pada bayu yang mematri bathin,

Aku rela menjadi wanodya yang kau pangku, puja..

Atau gini yang kau sanjung, puji..

Atau dayinta yang kau jelma saat hari membuta..

Atau rini yang kau khayali saat hari memagi..


Tuesday, 15 March 2016

Fragment #3

Girl: What are you doing today?

Boy: Having discussion with some of my students.

Girl: Students?

Boy: Yes, I'm teaching.

Girl: What do you do? Why are you teaching?

Boy: As far as I can remember, I've told you once about my job.

Girl: Yes, you said you work in public health.

Boy: Yes, that's right and teaching is part of my job.

Girl: So.... what is your job?

Boy: I'm healing wounds.

(Pause)

Girl: Are you a.....surgeon?

Boy: Ah you smart girl.

(Pause)

Girl: Hmm... you say your job is to heal wounds, right?

Boy: Yes, why?

Girl: If you can heal other people's wounds, why can't you heal the wound that's on your heart?

Boy: Oh please. Can we stop talking about this?


----

#fragment


Monday, 14 March 2016

Fragment #2

Boy: So you're a Javanese?

Girl: Yes, I'm a Javanese.

Boy: But you're a Muslim?

Girl: Yes, why?

Boy: Well, I thought that Javanese people are Hindus.

Girl: Haha. I think you don't read much. Well, maybe you need to buy a 'new' book and read it.


Girl: (are you coming from jaman baheula?)


----

#fragment


Seperti Drupadi

Apakah aku harus bersemedi untuk bisa melupakanmu?

Seperti Drupadi yang harus bersemedi setelah setahun bersama suami tergilir untuk kemudian bisa bersama dengan suami tergilir berikutnya?

Apakah hati harus seterpermainkan itu oleh memori?


Friday, 4 March 2016

Rindu Mengaduh

Kadang seperti teracuh,

tersiksa oleh rindu yang mengaduh...


Surabaya, entah kapan


Rasanya Memiliki Gigi Berantakan

Seandainya kalian tahu, di Indonesia ini ada sekitar 80% orang yang memiliki gigi yang susunannya tidak normal, antara lain gigi berantakan, gigi tongos, gigi kelinci, gigi gingsul, gigi cameh, dan masih banyak lagi jenisnya. Dalam hal ini, aku termasuk memiliki gigi yang berantakan dengan dua gigi depan yang besar (gigi kelinci) dan agak menjorok ke depan dan dua gigi taring atas yang juga agak menjorok ke depan. Pokoknya, berantakan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang kualami sebagai pemilik gigi berantakan, yang mungkin juga kalian alami.

1. Ibu dan beberapa saudara selalu mengingatkanku sejak kecil untuk memakai behel.

Yah, ibu memang orang yang merasa bahwa anaknya harus sempurna. Beberapa kali dia memintaku pergi ke dokter gigi untuk memasang kawat. Tapi saat itu dokter gigiku bilang “Nggak apa-apa Bu, nanti pas besar juga akan membaik dengan sendirinya.” Dan ketika aku beranjak dewasa ternyata gigiku masih sama, ibu terus saja bilang “Nggak pengen pake kawat?”

2. Waktu SD, teman-teman cowokku suka bilang aku ‘suka pamer gigi’.

Yah, aku memang sering mendapat bullying seperti ini. Hal ini karena ketika aku tersenyum, gigi depanku yang besar akan langsung terlihat. Pada waktu itu, aku sangat terganggu. Tapi sekarang, jika ada orang yang mem-bully gigiku, aku akan sangat santai menghadapinya karena aku sudah kebal. Kalian pun mungkin sering mengalami bullying seperti ini juga kan?

3. Ketika ke dokter gigi, aku hampir selalu ditawari untuk memakai behel atau mencoba jenis perawatan gigi lainnya.

Beberapa dokter gigi yang kutemui saat aku beranjak dewasa selalu menyarankanku untuk memakai kawat gigi. Ada juga beberapa penemuan modern yang ditawarkan kepadaku. Tapi aku memang tidak tertarik. Yah, lebih-lebih memang karena harganya yang sangat mahal.

4. Beberapa teman mengatakan “Ih, Rita punya gigi taring’.

Ketika aku tersenyum, gigi taringku memang akan terlihat jelas, dan menurut mereka aku seharusnya tidak memiliki taring. Padahal sebagai makluk omnivora, gigi manusia memang dilengkapi dengan taring juga untuk makan daging kan? Ah, ilmu biologi mereka jelas sangat buruk.

5. Ketika memakai lipstick, aku harus sering-sering melihat cermin, siapa tahu lipstick-nya menempel di gigi.

Karena gigi depanku yang agak menjorok, seringkali lipstick yang kupakai menempel di gigi. Jadinya, aku harus sering-sering mengeceknya di cermin.

6. Di beberapa kesempatan, khususnya di masa laluku, aku selalu merasa kesulitan ketika harus tersenyum karena merasa senyumku itu akan merusak penampilanku.

Aku selalu merasa senyumku tak manis. Setelah melewati beberapa tahap pertumbuhan, aku sadar bahwa yang dibutuhkan hanyalah rasa percaya diri dan latihan agar bisa tersenyum dengan penuh percaya diri. Kalian tak perlu tersenyum terlalu lebar. Cukup perlihatkan sedikit gigi di balik bibirmu yang tersenyum, dan kalian akan tampak misterius sekaligus percaya diri.

7. Momen ketika harus tertawa juga menimbulkan ketakutan tersendiri.

Sayangnya adalah sebenarnya aku termasuk orang yang suka tertawa dan gampang tertawa. Tapi pada saat yang sama, aku sering merasa harus menangkupkan telapak tangan ke mulut karena tak ingin terlihat aneh. Padahal, ini salah lho karena dengan membawa telapak tangan ke arah mulut, perhatian orang justru akan terbawa ke arah mulut kan?

8. Di masa mudaku, aku hampir tak pernah tersenyum ketika difoto. Ataupun kalau tersenyum, aku akan memilih tersenyum tanpa menunjukkan gigi.

Sama halnya dengan tersenyum di kehidupan nyata, aku pun dulunya tak mau tersenyum saat difoto. Namun, sekali lagi, seiring dengan pertumbuhanku, aku mulai belajar menemukan signature smile, yaitu pose senyum yang paling enak dilihat menurutku. Bahkan mereka yang memiliki gigi rapi pun pasti juga memiliki signature smile. Dan sekarang, bisa kukatakan, aku sudah bisa tersenyum dengan memperlihatkan gigi ketika difoto.

9. Yang paling menyebalkan adalah jika ada yang melakukan foto candid kepadaku.

Well, candid yang bagus biasanya adalah candid yang disengaja atau candid yang dilakukan terhadap selebritis yang memang tahu bahwa setiap saat mereka dikuntit kamera. Hanya saja, jika yang di-candid itu aku, aku merasa bahwa mungkin saja aku sedang berpose yang kurang pas dan gigiku akan membuat tampilanku menjadi aneh.

9. Menutup kedua bibir rapat-rapat adalah hal yang tak bisa kulakukan dengan mudah dan nyaman.

Aku perlu melakukan sedikit effort untuk bisa menutup mulut rapat-rapat. Ya, tahu sendirilah, mulut kita didesain untuk gigi yang rapi kan?

10. Aku selalu senang ketika mengetahui ada selebritis atau figur publik lainnya dengan gigi yang berantakan.

Pasti perasaan seperti ini juga pernah kalian rasakan. Walaupun mungkin kalian tidak secantik atau setampan selebritis itu, fakta bahwa mereka memiliki gigi berantakan saja sudah membuat kalian lega pastinya. Aku pun juga merasa demikian.

11. Sering merasa self-conscious ketika orang melihat ke bagian bawah wajahku dan bertanya-tanya apakah dia sedang melihat bibirku, pipiku, atau gigiku, atau mungkin hal yang lain lagi.

Ketika aku berbicara dengan seorang cowok dan dia melihat ke bagian bawah wajahku, aku selalu khawatir bahwa dia tengah mengamati gigiku. Padahal, mungkin sebenarnya tidak demikian. Beberapa orang yang pernah kukenal mengatakan bahwa mereka melihat bibirku, bukan gigiku, karena ingin menciumnya. Jadi, ingatlah, di luar gigi yang berantakan itu kalian masih punya bibir seksi yang mungkin kissable bagi sebagian orang.

Dan di antara semua perjuangan itu, ada beberapa hal yang membuatku senang memiliki gigi berantakan seperti ini:

1. Entah bagaimana, gigi yang berantakan membuatmu terlihat lebih manis.

Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa gigikulah yang membuat aku manis dan aku yakin mereka tidak sedang mengolokku. Ada adik kakak iparku yang dulunya terlihat begitu manis dengan gigi atasnya yang sedikit tongos. Ketika masuk kuliah, dia memakai behel dan begitu behelnya dicopot, aku merasa dia sudah tak semanis dulu lagi. Ya, bagi kalian yang kepikiran ingin memakai behel, mungkin bisa mengingat-ingat poin ini.

2. Aku nggak sendirian.

Di Indonesia saja, ada 80% orang yang giginya berantakan. Jadi, kalian punya banyak teman. Buat apa minder? Bahkan selebritis saja juga ada kan yang giginya berantakan? Dan tahu nggak kalau Inggris dikenal oleh masyarakat Amerika sebagai negara dengan penduduk yang memiliki bad teeth?

3. Bentuk gigi yang menjorok membuat kontur dan bentuk bibirmu lebih menarik.

Percaya atau tidak, orang-orang bergigi berantakan yang kutemui memiliki bibir yang seksi. Ketika mereka melakukan effort yang lebih untuk menutup mulut, menurutku mereka terlihat lebih menarik. Hal inilah yang juga hilang dari adik kakak iparku yang kusebutkan di atas.

4. Kalian bisa mengeksplorasinya asal tahu caranya

Aku sering browsing untuk mengetahui bagaimana cara tersenyum selebritis yang memiliki gigi berantakan. Dari situ, kalian pasti akan mempunyai banyak masukan. Dan kemudian nantinya kalian akan bisa mengeksplorasi cara tersenyum, cara bicara, atau cara tersenyum ketika difoto. Hal ini memang memerlukan waktu. Aku pun sampai detik ini merasa masih harus terus berlatih. Tapi yang jelas, gigi berantakan itu unik, dan jika tahu caranya serta racikan yang pas, kalian bisa mengeksplorasinya untuk menciptakan suatu ciri khas yang keren.

Nah, buat kalian semua yang merasa tidak PD karena memiliki gigi berantakan, coba renungkan rincian pengalaman di atas. Kalau perlu, tuliskan pengalaman-pengalaman kalian sendiri dan pikirkan apa yang membuat kalian menyukai gigi kalian, seperti apapun bentuknya.

Bagi kalian yang merasa tidak PD, dan mencoba mencari bantuan dengan menggunakan behel atau perawatan lainnya, aku merasa itu adalah hak masing-masing individu. Dan aku selalu mendukung hal tersebut karena itu bukan suatu hal yang terlarang. Apalagi jika gigi berantakan itu mengganggu kesehatanmu.

Jadi, baik kalian mau pake behel dan perawatan lain atau memilih tetap dengan gigi kalian yang berantakan, kalian tetap keren kok!


Sunday, 28 February 2016

Imitator Mahaistimewa

Dalam mencipta, kita akan meniru terlebih dahulu. Kita akan mengagumi seseorang, menyukai karyanya, dan menjiplaknya dalam karya kita. Kita sebenarnya tidak sepenuhnya menjiplak. Kita hanya meniru. Dan sesungguhnya pengimitasian adalah bentuk pembelajaran. Kita belajar untuk menemukan diri kita yang sesungguhnya. Dan dari jiplakan itu kita akan bisa mencipta karya yang benar-benar berbeda, karena kita tahu tak akan ada kue yang identik meski keluar dari cetakan yang sama: rasanya, ketebalannya, keempukannya, kegosongannya bisa berbeda, tergantung oven, bahan, dan pengalaman kokinya.

Kita akan memulai apapun dengan meniru karena sesungguhnya tak ada yang baru di dunia ini. Semua adalah tiruan, tapi tiruan yang dilengkapi, tiruan yang disempurnakan, tiruan yang beraksesori, tiruan yang termodifikasi. Dan hasilnya—seperti kataku tadi—adalah karya yang benar-benar lain, yang orisinil dari kita.

Dan aku memulai hidupku dengan menjiplakmu, menirumu, yang tentu saja tanpa kau sadari. Aku meniru cara berjalanmu, aku meng-copy­ gaya bicaramu, aku melakukan kesukaanmu, dan aku belajar untuk membisai yang kau bisa.

Selamanya hanya itu yang tersisa dariku: PENIRUMU. Tak ada yang orisinil dalam diriku. Aku bahkan seolah telah menjadi duplikatmu kecuali fakta bahwa kau lelaki dan aku perempuan. Dan perasaanmu yang datar padaku tak bisa pula kutiru, tapi kuganti dengan rasa sayang yang tulus.

Namun, meskipun begitu, aku tetap adalah tiruanmu. Aku mencoba menambahkan gaya yang tak sama, model yang berbeda, citarasa yang kudapat dari sosok lain, tapi tetap saja aku adalah penirumu yang sejati, dan karya yang tercipta adalah sepenuhnya imitasi.

Aku ingin mencipta karyaku sendiri tanpa campurtangan bayang-bayangmu, tapi yang kemudian tercipta tak lebih dari seonggok onggokan yang teronggok. Hingga akhirnya aku putuskan untuk terus menirumu, terus berada dalam bayang-bayangmu. Dan aku berjanji akan menjadi imitator yang luarbiasa, yang membuat dirimu bahkan terkesima. Dunia tak perlu kubuat terkesima, cukup kau.

Aku, yang kini tengah belajar mengumpat ala-mu, berjanji akan terus menirumu, akan terus mengagumimu, dan mencuri setiap carik inspirasi untuk kutambalkan pada karyaku yang hampir jadi. Dan sepenuhnya aku kemudian akan terlahir sebagai imitatormu yang mahaistimewa. Dan kau pun pada akhirnya akan lupa mana kau mana aku.


Surabaya


Wednesday, 24 February 2016

Buaian Kotor

Ada yang menggeliat dalam perutku, lalu kurasakan ratusan lebah keluar melewati vaginaku, mendesak keluar, menyisakan sengatan-sengatannya. Aku hidup dalam bayang-bayang.

Aku biarkan aroma-aroma surgawi yang tak terendus membelaiku dalam kemesraan yang tak ternilai, membuatku teringat akan sentuhan-sentuhan ragawi pada titik-titik yang strategis yang dilakukan olehmu, yang membuatku ingin terkencing saat itu karena kedinginan, tapi kau tak memeluk hanya membelai.

Aku mendesah dalam kesadaran penuh. Meratapi tiap erangan ajaibmu. Melenguh oleh keabsurdan bahasamu. Menggelinjang karena keperkasaan sosokmu.

Lebah-lebah semakin banyak mendesak keluar. Aku terjerembab di kasurku, menangisi kesendirian yang mubazir. Namun, masih terasa sensasi dari petualangan semalam dengan sosok tanpa tulang, tanpa bau, dan tanpa denyut. Masih terasa gerayangan penuh nafsu dari jiwa tak beraga. Masih terdengar bisikan penuh birahi dari suara tak bertuan. Masih terbayang wajahmu yang meminta, merayu, membujuk, menghamba, dan meronta, karena terlalu nikmatnya rasa yang kau kecap hingga tak ada kata yang bisa lagi kau ucap. Masih terdeteksi panas tubuhmu yang tak terderajatkan, yang menyisakan keringat di sekujur tubuhku.

Aku menggeliat; lebah-lebah telah keluar, meninggalkan sengatan-sengatannya... Dan aku tersenyum, terlelap dalam buaian kotor.


Can You Make Something Good Without Being Sexual?

Aku suka film-film Indonesia berkualitas. Tapi ketika sedang menonton film bagus yang sedikit sexual, jiwaku sedikit berontak.

Kadang aku ingin bertanya langsung kepada sineas-sineas tersebut: 'Can you make something good without being sexual?'

Jadi teringat film 'A Separation', film Iran yang menurutku merupakan salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Ceritanya runut, aktingnya memukau, penyutradaraannya oke, dan film itu bisa memenangkan beragam penghargaan without being sexual.

Kalau film dibikin sexual, akhirnya penonton yang menonton film bisa hilang kenetralannya.

Ismail Basbeth, ketika dia ditanya salah satu penanya saat acara nonton bareng 'Another Trip to The Moon' mengenai mengapa Tara Basro tidak dibuat 'naked' sekalian, menjawab: 'Saya kapok bikin yang ada naked-nakednya karena maksud utama dari film jadi tidak tersampaikan. Di akhir penayangan film pendek saya waktu itu, banyak yang nyalamin saya dan mengatakan "Wah, Mail, kamu hebat ya, berani bikin film kayak gitu." -- (walaupun Another Trip to The Moon juga nggak bisa dibilang bersih banget).

Karena takut maksud utama film tidak tersampaikan, dia memilih untuk tidak memasukkan lagi hal-hal berbau naked ke film.

Ya, maksudku juga itu sih. Sesuatu yang berbau sexual akan membuat penonton menjadi tidak netral. Entah dia menonton film karena suka atau karena ingin melihat sesuatu yang sexual itu. Huft. Sayang kan film bagus harus dirusak dengan sesuatu yang sexual itu.

Bukan hanya penonton yang bisa jadi tidak netral. Juri dan penyelenggara festival bisa jadi juga tidak netral. Artis yang mau naked atau melakukan hal-hal berbau sexual dinilai telah melakukan pemeranan dengan lebih all-out daripada mereka yang tidak. Beberapa penyelenggara festival bisa jadi juga punya visi yang kita tidak tahu apa. “Jika ada adegan sexual, agenda kita untuk menyebarluaskan pornografi semakin mudah.”

Adegan sexual seperti itu kan masih tetap bisa disebut pornografi walaupun berbalut embel-embel film bermutu.

Dan ini justru lebih berbahaya karena banyak dari kita yang tak sadar bahwa itu juga pornografi yang bisa merusak moral bangsa. Sensor juga tidak menolong karena sensor hanya untuk bioskop dan TV. Yang masuk ke layar alternatif dan ditonton mahasiswa-mahasiswi serta generasi muda lainnya bagaimana?

Ini membuatku dilema. Di lain sisi, aku suka film Indonesia yang berkualitas. Tapi, tolong dibuatkan donk yang tanpa seksualitas. Seksualitas tidak harus digambarkan dengan gamblang kan? Tidak harus dengan adegan ranjang kan? Orang toh sudah tahu cara ML gimana (lewat film porno??) tanpa harus dikasih tahu lagi lewat film yang bermutu ini.

Ah….. Semoga ini bukan hanya mimpi. Semoga ke depannya kalian para sineas bisa membuatkanku film bagus yang tidak sexual.


Monday, 8 February 2016

Senja Yang Berkarat

Aku selalu menyebutnya karat. Ya, alam yang berkarat. Ketika siang menguning menuju senja, pada saat itulah alam berkarat. Seperti buah apel teriris yang dibiarkan di udara terbuka, seperti itulah senja: berkarat pada kemuliannya sendiri.

Senja yang berkarat inilah yang selalu mengantarku pada gerbang kegelisahan. Aku takut jika ketika karat itu hilang tergantikan kekelabuan kemudian kehitaman yang pekat, wajahmu akan hadir lagi, dan rindu itu akan memaksaku untuk menangis. Dan aku masih saja menangisimu atas semua memori yang pernah tercipta.

Kau lelakiku yang terukir pada pasir pantai, yang siap tergerus gelombang, lalu hilang, hanyut terseret arus. Kau lelakiku yang pamit tanpa pernah benar-benar mampir untuk menghirup kopi pahit buatanku. Kau lelakiku yang menawarkan pelukan, belaian, dan ciuman mesra tapi yang lalu kabur di saat aku masih menginginkannya. Kau lelakiku yang mungkin tak pernah tahu betapa dalam rasa yang tercipta dari ‘cangkruk’ yang singkat itu.

Dan aku meneriakkan namamu pada senja yang berkarat, menambahkan kata-kata seperti anjing, gila, mampus, jancuk, asu, tai, fuck, shit pada setiap teriakan. Namun, semuanya tak bisa mengubah fakta bahwa kau adalah lelaki yang sangat manis, dan terlalu manis untuk dilupakan meskipun kau meminta dengan sangat.

Dan aku masih menatap pada alam yang berkarat, tercenung oleh nuansa Ilahi yang tercipta dari penyebutan namamu, suatu kenikmatan yang tak terpertanyakan. Kali ini aku tidak berteriak dan tidak menambahkan kata-kata seperti anjing, gila, mampus, jancuk, asu, tai, fuck, shit pada setiap teriakan. Kali ini aku membisikkan namamu, seolah aku sedang berbisik merayu pada telinga kirimu, dan merasakan ketenangan yang hampa. Dan aku ketakutan. Lalu aku sadar bahwa kali ini aku siap menangis lagi—menangisimu—dan membiarkan senja yang berkarat melaju menuju kelam di barat.


Sunday, 7 February 2016

Maukah Kau Pacaran Selamanya Denganku?

Aku mudah bosan, dengan semua hal. Makanya, tak heran aku keluar dari pekerjaanku yang terakhir bahkan sebelum enam bulan. Meskipun, semua orang menyayangkan. Aku bosan. Bahkan melakukan hobiku pun kadang aku bosan.

Aku cinta membaca, tapi ketika bosan, tulisan-tulisan itu bagaikan kutu-kutu yang siap menghisap darahku. Aku suka menulis, tapi kadang tangan ini seperti kram. Menonton film ketika sudah bosan pun seperti hanya melihat kumpulan gambar saja tanpa makna.

Aku bosan, pembosan, bahkan mungkin kadang bosan dengan diriku sendiri. Aku bisa bosan tidur ketika ngantuk. Aku pernah bosan makan ketika lapar. Sekali waktu aku juga bosan mandi ketika badan lengket oleh keringat dan daki.

Namun, entahlah, pacaran denganmu tak mengenal kata bosan. Aku sudah pacaran setiap hari selama setahun denganmu, dan masih saja selalu ingin pacaran denganmu setiap hari selama seratus tahun ke depan. Kenapa bisa begini? Bisakah kau jelaskan?

Atau barangkali kau punya anti-virus untuk rasa bosanku? Atau mungkin suaramu memang terbuat dari adonan super anti-bosan? Ataukah wajahmu itu yang mujarab?

Entahlah, sayangku…. Aku tak menemukan jawaban. Bahkan mungkin kau pun tak bisa menjawab. Namun, maukah kau pacaran selamanya denganku?


Renungan Satu Tahun Bersamamu….

Surabaya, Mei 2012


Fragment #1

Boy: Where we going?

Girl: Top floor of this building.

Boy: What for?

Girl: Praying.

Boy: But I'm not praying.

Girl: What you mean? You said you're a Muslim.

Boy: Yes. But I'm not praying today. I'm wearing shoes.

Girl: So?

Boy: I am too lazy to take off my shoes.

Girl: What? You don't pray just because you're too lazy to take off your shoes?

Boy: I'm going to mall to hang out, not to pray. That's why I'm wearing shoes.

Girl: Nonsense!

(The boy pushes the girl to the wall.)

Boy: Hey! You're really like my father.

Girl: But you have to pray.

(The boy brings his face closer to hers.)

Boy: Look. I'm still young. I don't need to pray.

Girl: What??!!

(The boy brings his face even closer to hers.)

Girl: Hey, don't do that. It's mall. Everyone is looking at us. Please behave and respect us here.

Boy: Okay, okay, okay. Don't be angry. I will give you time to pray but don't be too long. I will wait outside and watch out your shoes just in case someone steals them.

Girl: What? Noone is here to steal shoes!


----

#fragment



Tuesday, 2 February 2016

It's Scary to Know How Traceable We Are in Cyberspace

Kalau ada yang tanya kenapa aku sangat takut menggunakan media sosial atau apapun yang berhubungan dengan dunia maya, jawabannya satu: aku takut 'ditemukan'.

Bayangkan ada orang yang stalking kalian dan tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depan rumah kalian hanya karena memperoleh data kalian dari akun instagram misalnya. That's super scary.

Level keterlacakan masing-masing orang memang berbeda-beda. Namun, the scary fact about Internet is that once you publish something, it will forever belong to the world. Yah, status di twitter memang bisa dihapus sama yang punya akun. Tapi kalau ada yang screen-capture, gimana? Bahkan ada kasus status di Path yang di-capture sukses bikin si empunya akun di-bully habis-habisan di medsos.

Ketika bicara tentang medsos, lagi-lagi kita harus hati-hati untuk memasukkan data-data yang sifatnya personal. Aku saja sampai sekarang tidak punya akun LinkedIn, karena menurutku social network satu ini benar-benar menjabarkan secara detail mengenai kita, seperti riwayat pendidikan dan riwayat pekerjaan, dan siapapun bisa melihat akun kita.

Banyak sih yang bilang aku parno. Mungkin memang iya. Sebenarnya ke-parno-an ini juga didasarkan pada fakta bahwa aku sendirilah yang sebenarnya suka stalking orang melalui dunia maya. Dan kebanyakan berhasil. Maka dari itu, aku berpikir jika aku saja bisa menemukan data orang dengan sebegitu mudahnya melalui internet, tentu orang itu—dan orang-orang lain di dunia ini—juga bisa dengan semudah itu melakukan hal yang sama terhadapku. And that scares the hell out of me.

Nah, mungkin ada baiknya mulai sekarang kita memikirkan tentang traceability atau keterlacakan kita, khususnya di dunia maya.


Pilihan Nama Untuk Anakku Nanti

Warning: Tulisan yang satu ini super geje (melebihi tulisan-tulisan yang lain).

Meskipun belum merencanakan untuk mempunyai anak dalam waktu dekat, aku sudah mempersiapkan beberapa pilihan nama untuk anakku nanti. Kalau tidak salah ingat, aku sudah mulai memikirkan nama anak ketika masih duduk di bangku SMPyang pada saat itu ditertawakan oleh beberapa teman lelakiku karena saat aku bahkan tidak punya pacar.

Aku sebenarnya terinspirasi oleh kakakku. Dia telah memiliki satu nama yang dia sukai ketika masih kecil. Nama itu diambil dari salah satu figur publik yang menurut dia ganteng (pada eranya). Dan ketika dia menikah kemudian melahirkan anak pertamanya (dan seorang lelaki pula), dia sangat bahagia karena bisa menggunakan nama itu untuk menamai anaknya. Dan menurutku, that's wonderful.

Karena kisah inilah, sejak SMP aku sudah suka mencari-cari nama yang kemungkinan akan kugunakan untuk nama anakku kelak.

Dalam tulisan kali ini, aku akan mencoba menganalisa nama-nama yang sudah kupilih. Analisa ini dibuat berdasarkan kelebihan dan kekurangannya untuk bahan pertimbangan sebelum aku menentukan nama yang benar-benar tepat untuk anakku nanti.

Pilihan nama untuk anak cowok:

1. ELANG

Kelebihan: Nama ini terdengar keren dan macho. Elang banyak digunakan untuk lambang dari berbagai negara di dunia. Elang menyimbolkan keperkasaan dan kebebasan. Selain itu, elang juga memiliki mata yang tajam. Elang mengajarkan kita untuk menggunakan energi yang kita miliki untuk hal-hal positif (e.g mencari makan :D )

Kekurangan: Kalau dilihat-lihat, elang itu mengerikan juga ya. Atau lebih tepatnya mistis?

2. UMAR

Kelebihan: Umar adalah nama salah satu sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Tapi sebenarnya bukan hal itu yang membuat aku tertarik. Nama 'Umar' terasa nyaman diucapkan. Kesannya juga gagah. Nama ini diambil dari bahasa Arab 'umr' yang berarti kehidupan.

Kekurangan: Nama ini muncul baru-baru saja sebagai kandidat nama anakku. Terlalu mendadak. Gara-garanya, waktu itu ada orang di TV bernama Umar dan dia cakep. :D

3. SUDYAWIRAT

Kelebihan: Nama ini unik, sepertinya berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) atau mungkin juga Sansekerta.

Kekurangan: Sampai saat ini aku masih belum menemukan artinya. Aku dapat inspirasi nama ini dari salah satu sinetron kolosal. Angling Dharma, kalau tak salah ingat.

4. KARNA

Kelebihan: Karna adalah tokoh wayang yang sangat keren, yang mempunyai semua kualitas yang ada di Pandawa. Dia adalah salah satu prajurit terhebat di Mahabarata. Nama Soekarno pun diambil dari nama Karna.

Kekurangan: Aku sedikit bingung; enaknya pakai spelling Indonesia (Karna) atau Jawa (Karno)?

5. PALGUNADI

Kelebihan: Dalam cerita pewayangan, Palgunadi digambarkan sebagai seorang pemanah ulung, yang rajin dan bertekad kuat. Nama ini juga terdengar macho.

Kekurangan: Sayangnya, banyak juga orang yang memakai nama ini, salah satunya adalah mantan teman sekantorku. Jadi, agak sedikit gimana gitu jika harus menggunakan nama itu. Selain itu, aku juga bingung nanti anakku mau dipanggil apa: Pal, Gun, Adi???

6. ALI

Kelebihan: Mantan bosku mempunyai adik bernama Ali. Ali ini mempunyai keahlian meramu jamu herbal untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Meskipun tidak pernah bertemu langsung, saat itu aku sangat kagum dengan orang ini dan namanya ingin aku pakai juga sebagai nama anakku nanti.

Kekurangan: Adik mantan bosku itu pada akhirnya menjadi atasan suamiku. Jadi agak aneh ya kalau suamiku punya atasan dan anak dengan nama yang sama.

7. PRAMUDYA

Kelebihan: Diambil dari nama Pramoedya Ananta Toer, penulis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Harapannya, semoga anakku bisa menjadi penulis sekeren beliau. Panggilan 'Pram' sepertinya juga terdengar sangat seksi.

Kekurangan: Sampai saat ini aku belum tahu artinya. Dan nama ini terdengar terlalu agung menurutku.

8. ARSHAD

Kelebihan: Nama ini memiliki arti yang bagus, yaitu jujur. Nama ini juga terdengar seksi jika diucapkan.

Kekurangan: Sayanganya, penulisannya agak susah, dan pengucapannya pun sepertinya agak ribet, bahkan untuk lidahku sendiri. Belum lagi kalau harus berurusan dengan pengucapan orang-orang desa yang sering salah.

9. WISANGGENI

Kelebihan: Dia adalah tokoh wayang asli ciptaan orang Jawa. Nama ini terdengar macho, dan memiliki arti 'bisa api'.


Kekurangan: Panggilannya apa ya? Wisa? Geni?


Pilihan nama untuk anak cewek:

1. DRUPADI

Kelebihan: Tokoh pewayangan yang sangat aku idolakan.

Kekurangan: Nasibnya kurang baik dan dia  memang memiliki beberapa sifat yang tidak baik juga sih. Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan nama ini. Dan sepertinya nama ini akan semakin populer mengingat telah ditayangkannya serial Mahabarata di ANTV... :(

2. NAHLA

Kelebihan: Nama ini terinspirasi dari surat An-Nahl ayat 68-69. Pokoknya, lebah punya banyak sifat yang baik.

Kekurangan: Panggilan satu-suku-katanya apa ya? Nah, Nahl, atau La??


NB: Bukan berarti nama yang ditulis paling atas memiliki kemungkinan lebih besar untuk dipilih. Bisa jadi nama-nama ini malah tidak ada yang dipilih.

NB 2: Dengan mem-posting tulisan ini tidak berarti bahwa aku ingin segera punya anak.


Sunday, 31 January 2016

Soleram vs Kumis dan Cambang

Soleram
Soleram
Soleram
Anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merah lah pipinya


Siapa sih yang tidak pernah dengar lagu ini? Lagu dari Riau ini sepertinya memang lagu wajib buat semua anak TK dan SD Se-Indonesia Raya kan? Semua anak Indonesia pasti kenal dengan lagu ini. Selain karena liriknya yang pendek dan berbahasa Melayu, nadanya pun simpel. Jadi, pasti hampir semua anak Indonesia bisa menyanyikan lagu ini.

Pada masa kecilku, aku merasa sangat penasaran dengan lagu ini. Jiwaku tergelitik, akalku terusik. Setelah mencoba memahaminya sendiri dengan penalaran anak TK dan tidak menemukan jawaban, aku akhirnya mendatangi Bapakku dan bertanya:

"Pak, kenapa Soleram itu kalau dicium, pipinya merah?"

Tanpa berpikir panjang, Bapak langsung menjawab dengan singkat, "Karena pipinya kena brengos."

(Brengos adalah bahasa Jawa untuk kumis).

Hah??

Tentu saja aku tambah bingung, tapi memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Aku memilih untuk kembali menyendiri dan mencoba menalar (lagi-lagi dengan penalaran anak TK). Apa hubungannya antara kumis dan pipi merah? Mungkin rambut-rambut kumis itu menusuk-nusuk daging pipi sehingga terasa perih dan menimbulkan warna kemerahan? Apakah berarti ciuman dengan orang berkumis akan sangat menyakitkan? Apa karena itu, Soleram si anak manis tidak boleh dicium?

Nah, pikiran ini kemudian menghilang, terkubur, dan terlupakan sampai beberapa tahun setelah aku memasuki masa puber. Kala itu, aku tiba-tiba terobsesi dengan kumis. Orang berkumis pertama yang aku sukai adalah guru Bahasa Inggrisku di SMA kelas tiga. Kumisnya tebal dan membuatnya sangat tampan (menurutku yang saat itu sudah menggunakan penalaran anak SMA). Namun, teka-teki Soleram tak juga terjawab.

Ketika masuk kuliah, dan lebih bisa terbuka tentang beberapa hal dengan teman-teman terdekat, barulah aku bisa menalar kenapa pipi Soleram merah ketika dicium. Pipi Soleram merah bukan karena terkena kumis. Soleram si anak manis akan tersipu jika dicium. Dan karena itulah pipinya memerah. Sama sekali bukan karena KUMIS!!


Well, tapi kesimpulan ini tidak lantas membuat aku kecewa. Anehnya, hal ini justru membuat aku semakin terobsesi dengan kumis dan cambang (bahkan aku pun akhirnya menikah dengan seorang lelaki berkumis dan bercambang). Hahaha. Itulah kumis. Dan itulah sedikit cerita aneh tentang bagaimana aku terobsesi dengan kumis gara-gara lagu Soleram.

Saturday, 30 January 2016

a mere fucking poet

you're a limited-edition man.

saying archaic,sounds romantic.

saying romantic,sounds poetic.

saying poetic,sounds dramatic.

you melt me down.

a liar, your friends say you are.

a mere fucking poet.

but i melt be.

never once you use my name.

cause mine's not archaic, not romantic, not poetic, not dramatic.

and other girls' are.

but i still melt be.

think as if it were mine.

and i still melt be.

by a mere fucking poet,

that is you.