Aku suka film-film Indonesia berkualitas. Tapi ketika sedang menonton film bagus yang sedikit sexual, jiwaku sedikit berontak.
Kadang aku ingin bertanya langsung kepada sineas-sineas tersebut: 'Can you make something good without being sexual?'
Jadi teringat film 'A Separation', film Iran yang menurutku merupakan salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Ceritanya runut, aktingnya memukau, penyutradaraannya oke, dan film itu bisa memenangkan beragam penghargaan without being sexual.
Kalau film dibikin sexual, akhirnya penonton yang menonton film bisa hilang kenetralannya.
Ismail Basbeth, ketika dia ditanya salah satu penanya saat acara nonton bareng 'Another Trip to The Moon' mengenai mengapa Tara Basro tidak dibuat 'naked' sekalian, menjawab: 'Saya kapok bikin yang ada naked-nakednya karena maksud utama dari film jadi tidak tersampaikan. Di akhir penayangan film pendek saya waktu itu, banyak yang nyalamin saya dan mengatakan "Wah, Mail, kamu hebat ya, berani bikin film kayak gitu." -- (walaupun Another Trip to The Moon juga nggak bisa dibilang bersih banget).
Karena takut maksud utama film tidak tersampaikan, dia memilih untuk tidak memasukkan lagi hal-hal berbau naked ke film.
Ya, maksudku juga itu sih. Sesuatu yang berbau sexual akan membuat penonton menjadi tidak netral. Entah dia menonton film karena suka atau karena ingin melihat sesuatu yang sexual itu. Huft. Sayang kan film bagus harus dirusak dengan sesuatu yang sexual itu.
Bukan hanya penonton yang bisa jadi tidak netral. Juri dan penyelenggara festival bisa jadi juga tidak netral. Artis yang mau naked atau melakukan hal-hal berbau sexual dinilai telah melakukan pemeranan dengan lebih all-out daripada mereka yang tidak. Beberapa penyelenggara festival bisa jadi juga punya visi yang kita tidak tahu apa. “Jika ada adegan sexual, agenda kita untuk menyebarluaskan pornografi semakin mudah.”
Adegan sexual seperti itu kan masih tetap bisa disebut pornografi walaupun berbalut embel-embel film bermutu.
Dan ini justru lebih berbahaya karena banyak dari kita yang tak sadar bahwa itu juga pornografi yang bisa merusak moral bangsa. Sensor juga tidak menolong karena sensor hanya untuk bioskop dan TV. Yang masuk ke layar alternatif dan ditonton mahasiswa-mahasiswi serta generasi muda lainnya bagaimana?
Ini membuatku dilema. Di lain sisi, aku suka film Indonesia yang berkualitas. Tapi, tolong dibuatkan donk yang tanpa seksualitas. Seksualitas tidak harus digambarkan dengan gamblang kan? Tidak harus dengan adegan ranjang kan? Orang toh sudah tahu cara ML gimana (lewat film porno??) tanpa harus dikasih tahu lagi lewat film yang bermutu ini.
Ah….. Semoga ini bukan hanya mimpi. Semoga ke depannya kalian para sineas bisa membuatkanku film bagus yang tidak sexual.
Er...km gak pingin ini dibaca riri ato ismail basbeth to?
ReplyDeletePengen dibaca mereka tapi nggak tahu caranya, karena aku nggak ingin ngirim secara langsung ke orangnya. hahahaha.
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete