Thursday, 23 June 2016

Aku dan Radio

Aku hobi mendengarkan radio. Waktu awal kuliah, hampir setiap hari aku dan sahabatku mendengarkan radio. Dan waktu itu, aku pun jadi sangat menyukai salah satu program di salah satu radio terbesar di Surabaya. Hingga kemudian, aku malah jadi terobsesi dengan salah satu penyiarnya, sebut saja Mr. F. Aku jadi pengen ketemu dan pengen tahu seperti apa orangnya.

Sahabatku kemudian mendapat info bahwa Mr. F itu ternyata satu jurusan denganku (was it a coincidence?) tapi dia dari angkatan tua. Suatu hari, ketika aku sedang berada di suatu kelas entah apa, sahabatku yang saat itu bolos mengirim SMS: Mr. F ada di lantai 2. Dia pake kemeja kotak-kotak hitam merah, pake tas ransel, pake kacamata.

Aku langsung deg-degan. Aku memberanikan diri izin ke dosen untuk ke kamar mandi. Kemudian dari ruang kelas di lantai 3 tersebut, aku setengah berlari menuruni tangga menuju lantai 2.

Dan disana, di tempat duduk di pinggiran selasar lantai 2, lelaki dengan kemeja kotak-kotak dan kacamata ber-frame hitam tebal sedang duduk sambil memandangi hapenya. Dia menangkat wajah sebentar ketika mengetahui ada orang mendekat. Tidak, aku tidak mengajaknya ngobrol. Aku hanya menatapnya, mengamati wajahnya sekilas sambil berjalan melewatinya, berusaha sebisa mungkin terlihat natural.

Aku kembali ke kelas dengan dada yang masih bergemuruh. Akhirnya aku tahu Mr. F itu seperti apa. Aku merasa puas, tapi tebakanku rupanya meleset. Dari suaranya, semula aku menebak bahwa Mr. F itu sedikit gendut dengan muka yang chubby. Kenyataannya, Mr. F (sedikit) terlalu ganteng dibandingkan ekspektasiku. Bahkan, kalau mau jujur, justru Mr. F malah sebenarnya memiliki postur tubuh yang mendekati perfect. Aku dan sahabatku kemudian menjulukinya manekin berjalan karena setiap hari, dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia selalu memakai barang-barang yang bermerk yang terlihat mahal dan—menyebalkannya—bener-bener fit on him.

Akhirnya, aku malah bisa satu kelas dengan Mr. F di beberapa matkul karena dia yang angkatan tua itu masih harus banyak mengulang. Dan anehnya lagi, aku, sahabatku, dan Mr. F akhirnya bisa ketemu dalam suatu kegiatan ekstrakurikuler, meskipun tak lama. Dari kegiatan itu, aku bisa berada sangat dekat dia, berbincang secara tak langsung dalam suatu forum kecil, dan aku berusaha sebisa mungkin tetap menjadi secret admirer yang tak mau ketahuan.

Oh, ya, ada satu hal lucu tentang Mr. F. Dia merasa bahwa aku dan sahabatku itu harus selalu bersama setiap saat. Jadi, jika dia suatu kali berpapasan dengan aku atau sahabatku yang lagi jalan sendirian, dia biasanya akan bertanya: satunya mana?

Meskipun sekarang aku sudah tidak pernah bertemu dia dan sudah tidak pernah mendengarkan suaranya di radio, aku selalu merasa bahwa perjumpaanku dengan Mr. F merupakan suatu fenomena alam yang luar biasa dan penuh dengan coincidence. Or was that ever a coincidence?