Soleram
Soleram
Soleram
Anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merah lah pipinya
Siapa sih yang tidak pernah dengar lagu ini? Lagu dari Riau ini sepertinya memang lagu wajib buat semua anak TK dan SD Se-Indonesia Raya kan? Semua anak Indonesia pasti kenal dengan lagu ini. Selain karena liriknya yang pendek dan berbahasa Melayu, nadanya pun simpel. Jadi, pasti hampir semua anak Indonesia bisa menyanyikan lagu ini.
Pada masa kecilku, aku merasa sangat penasaran dengan lagu ini. Jiwaku tergelitik, akalku terusik. Setelah mencoba memahaminya sendiri dengan penalaran anak TK dan tidak menemukan jawaban, aku akhirnya mendatangi Bapakku dan bertanya:
"Pak, kenapa Soleram itu kalau dicium, pipinya merah?"
Tanpa berpikir panjang, Bapak langsung menjawab dengan singkat, "Karena pipinya kena brengos."
(Brengos adalah bahasa Jawa untuk kumis).
Hah??
Tentu saja aku tambah bingung, tapi memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Aku memilih untuk kembali menyendiri dan mencoba menalar (lagi-lagi dengan penalaran anak TK). Apa hubungannya antara kumis dan pipi merah? Mungkin rambut-rambut kumis itu menusuk-nusuk daging pipi sehingga terasa perih dan menimbulkan warna kemerahan? Apakah berarti ciuman dengan orang berkumis akan sangat menyakitkan? Apa karena itu, Soleram si anak manis tidak boleh dicium?
Nah, pikiran ini kemudian menghilang, terkubur, dan terlupakan sampai beberapa tahun setelah aku memasuki masa puber. Kala itu, aku tiba-tiba terobsesi dengan kumis. Orang berkumis pertama yang aku sukai adalah guru Bahasa Inggrisku di SMA kelas tiga. Kumisnya tebal dan membuatnya sangat tampan (menurutku yang saat itu sudah menggunakan penalaran anak SMA). Namun, teka-teki Soleram tak juga terjawab.
Ketika masuk kuliah, dan lebih bisa terbuka tentang beberapa hal dengan teman-teman terdekat, barulah aku bisa menalar kenapa pipi Soleram merah ketika dicium. Pipi Soleram merah bukan karena terkena kumis. Soleram si anak manis akan tersipu jika dicium. Dan karena itulah pipinya memerah. Sama sekali bukan karena KUMIS!!
Well, tapi kesimpulan ini tidak lantas membuat aku kecewa. Anehnya, hal ini justru membuat aku semakin terobsesi dengan kumis dan cambang (bahkan aku pun akhirnya menikah dengan seorang lelaki berkumis dan bercambang). Hahaha. Itulah kumis. Dan itulah sedikit cerita aneh tentang bagaimana aku terobsesi dengan kumis gara-gara lagu Soleram.