Sunday, 28 February 2016

Imitator Mahaistimewa

Dalam mencipta, kita akan meniru terlebih dahulu. Kita akan mengagumi seseorang, menyukai karyanya, dan menjiplaknya dalam karya kita. Kita sebenarnya tidak sepenuhnya menjiplak. Kita hanya meniru. Dan sesungguhnya pengimitasian adalah bentuk pembelajaran. Kita belajar untuk menemukan diri kita yang sesungguhnya. Dan dari jiplakan itu kita akan bisa mencipta karya yang benar-benar berbeda, karena kita tahu tak akan ada kue yang identik meski keluar dari cetakan yang sama: rasanya, ketebalannya, keempukannya, kegosongannya bisa berbeda, tergantung oven, bahan, dan pengalaman kokinya.

Kita akan memulai apapun dengan meniru karena sesungguhnya tak ada yang baru di dunia ini. Semua adalah tiruan, tapi tiruan yang dilengkapi, tiruan yang disempurnakan, tiruan yang beraksesori, tiruan yang termodifikasi. Dan hasilnya—seperti kataku tadi—adalah karya yang benar-benar lain, yang orisinil dari kita.

Dan aku memulai hidupku dengan menjiplakmu, menirumu, yang tentu saja tanpa kau sadari. Aku meniru cara berjalanmu, aku meng-copy­ gaya bicaramu, aku melakukan kesukaanmu, dan aku belajar untuk membisai yang kau bisa.

Selamanya hanya itu yang tersisa dariku: PENIRUMU. Tak ada yang orisinil dalam diriku. Aku bahkan seolah telah menjadi duplikatmu kecuali fakta bahwa kau lelaki dan aku perempuan. Dan perasaanmu yang datar padaku tak bisa pula kutiru, tapi kuganti dengan rasa sayang yang tulus.

Namun, meskipun begitu, aku tetap adalah tiruanmu. Aku mencoba menambahkan gaya yang tak sama, model yang berbeda, citarasa yang kudapat dari sosok lain, tapi tetap saja aku adalah penirumu yang sejati, dan karya yang tercipta adalah sepenuhnya imitasi.

Aku ingin mencipta karyaku sendiri tanpa campurtangan bayang-bayangmu, tapi yang kemudian tercipta tak lebih dari seonggok onggokan yang teronggok. Hingga akhirnya aku putuskan untuk terus menirumu, terus berada dalam bayang-bayangmu. Dan aku berjanji akan menjadi imitator yang luarbiasa, yang membuat dirimu bahkan terkesima. Dunia tak perlu kubuat terkesima, cukup kau.

Aku, yang kini tengah belajar mengumpat ala-mu, berjanji akan terus menirumu, akan terus mengagumimu, dan mencuri setiap carik inspirasi untuk kutambalkan pada karyaku yang hampir jadi. Dan sepenuhnya aku kemudian akan terlahir sebagai imitatormu yang mahaistimewa. Dan kau pun pada akhirnya akan lupa mana kau mana aku.


Surabaya


Wednesday, 24 February 2016

Buaian Kotor

Ada yang menggeliat dalam perutku, lalu kurasakan ratusan lebah keluar melewati vaginaku, mendesak keluar, menyisakan sengatan-sengatannya. Aku hidup dalam bayang-bayang.

Aku biarkan aroma-aroma surgawi yang tak terendus membelaiku dalam kemesraan yang tak ternilai, membuatku teringat akan sentuhan-sentuhan ragawi pada titik-titik yang strategis yang dilakukan olehmu, yang membuatku ingin terkencing saat itu karena kedinginan, tapi kau tak memeluk hanya membelai.

Aku mendesah dalam kesadaran penuh. Meratapi tiap erangan ajaibmu. Melenguh oleh keabsurdan bahasamu. Menggelinjang karena keperkasaan sosokmu.

Lebah-lebah semakin banyak mendesak keluar. Aku terjerembab di kasurku, menangisi kesendirian yang mubazir. Namun, masih terasa sensasi dari petualangan semalam dengan sosok tanpa tulang, tanpa bau, dan tanpa denyut. Masih terasa gerayangan penuh nafsu dari jiwa tak beraga. Masih terdengar bisikan penuh birahi dari suara tak bertuan. Masih terbayang wajahmu yang meminta, merayu, membujuk, menghamba, dan meronta, karena terlalu nikmatnya rasa yang kau kecap hingga tak ada kata yang bisa lagi kau ucap. Masih terdeteksi panas tubuhmu yang tak terderajatkan, yang menyisakan keringat di sekujur tubuhku.

Aku menggeliat; lebah-lebah telah keluar, meninggalkan sengatan-sengatannya... Dan aku tersenyum, terlelap dalam buaian kotor.


Can You Make Something Good Without Being Sexual?

Aku suka film-film Indonesia berkualitas. Tapi ketika sedang menonton film bagus yang sedikit sexual, jiwaku sedikit berontak.

Kadang aku ingin bertanya langsung kepada sineas-sineas tersebut: 'Can you make something good without being sexual?'

Jadi teringat film 'A Separation', film Iran yang menurutku merupakan salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Ceritanya runut, aktingnya memukau, penyutradaraannya oke, dan film itu bisa memenangkan beragam penghargaan without being sexual.

Kalau film dibikin sexual, akhirnya penonton yang menonton film bisa hilang kenetralannya.

Ismail Basbeth, ketika dia ditanya salah satu penanya saat acara nonton bareng 'Another Trip to The Moon' mengenai mengapa Tara Basro tidak dibuat 'naked' sekalian, menjawab: 'Saya kapok bikin yang ada naked-nakednya karena maksud utama dari film jadi tidak tersampaikan. Di akhir penayangan film pendek saya waktu itu, banyak yang nyalamin saya dan mengatakan "Wah, Mail, kamu hebat ya, berani bikin film kayak gitu." -- (walaupun Another Trip to The Moon juga nggak bisa dibilang bersih banget).

Karena takut maksud utama film tidak tersampaikan, dia memilih untuk tidak memasukkan lagi hal-hal berbau naked ke film.

Ya, maksudku juga itu sih. Sesuatu yang berbau sexual akan membuat penonton menjadi tidak netral. Entah dia menonton film karena suka atau karena ingin melihat sesuatu yang sexual itu. Huft. Sayang kan film bagus harus dirusak dengan sesuatu yang sexual itu.

Bukan hanya penonton yang bisa jadi tidak netral. Juri dan penyelenggara festival bisa jadi juga tidak netral. Artis yang mau naked atau melakukan hal-hal berbau sexual dinilai telah melakukan pemeranan dengan lebih all-out daripada mereka yang tidak. Beberapa penyelenggara festival bisa jadi juga punya visi yang kita tidak tahu apa. “Jika ada adegan sexual, agenda kita untuk menyebarluaskan pornografi semakin mudah.”

Adegan sexual seperti itu kan masih tetap bisa disebut pornografi walaupun berbalut embel-embel film bermutu.

Dan ini justru lebih berbahaya karena banyak dari kita yang tak sadar bahwa itu juga pornografi yang bisa merusak moral bangsa. Sensor juga tidak menolong karena sensor hanya untuk bioskop dan TV. Yang masuk ke layar alternatif dan ditonton mahasiswa-mahasiswi serta generasi muda lainnya bagaimana?

Ini membuatku dilema. Di lain sisi, aku suka film Indonesia yang berkualitas. Tapi, tolong dibuatkan donk yang tanpa seksualitas. Seksualitas tidak harus digambarkan dengan gamblang kan? Tidak harus dengan adegan ranjang kan? Orang toh sudah tahu cara ML gimana (lewat film porno??) tanpa harus dikasih tahu lagi lewat film yang bermutu ini.

Ah….. Semoga ini bukan hanya mimpi. Semoga ke depannya kalian para sineas bisa membuatkanku film bagus yang tidak sexual.


Monday, 8 February 2016

Senja Yang Berkarat

Aku selalu menyebutnya karat. Ya, alam yang berkarat. Ketika siang menguning menuju senja, pada saat itulah alam berkarat. Seperti buah apel teriris yang dibiarkan di udara terbuka, seperti itulah senja: berkarat pada kemuliannya sendiri.

Senja yang berkarat inilah yang selalu mengantarku pada gerbang kegelisahan. Aku takut jika ketika karat itu hilang tergantikan kekelabuan kemudian kehitaman yang pekat, wajahmu akan hadir lagi, dan rindu itu akan memaksaku untuk menangis. Dan aku masih saja menangisimu atas semua memori yang pernah tercipta.

Kau lelakiku yang terukir pada pasir pantai, yang siap tergerus gelombang, lalu hilang, hanyut terseret arus. Kau lelakiku yang pamit tanpa pernah benar-benar mampir untuk menghirup kopi pahit buatanku. Kau lelakiku yang menawarkan pelukan, belaian, dan ciuman mesra tapi yang lalu kabur di saat aku masih menginginkannya. Kau lelakiku yang mungkin tak pernah tahu betapa dalam rasa yang tercipta dari ‘cangkruk’ yang singkat itu.

Dan aku meneriakkan namamu pada senja yang berkarat, menambahkan kata-kata seperti anjing, gila, mampus, jancuk, asu, tai, fuck, shit pada setiap teriakan. Namun, semuanya tak bisa mengubah fakta bahwa kau adalah lelaki yang sangat manis, dan terlalu manis untuk dilupakan meskipun kau meminta dengan sangat.

Dan aku masih menatap pada alam yang berkarat, tercenung oleh nuansa Ilahi yang tercipta dari penyebutan namamu, suatu kenikmatan yang tak terpertanyakan. Kali ini aku tidak berteriak dan tidak menambahkan kata-kata seperti anjing, gila, mampus, jancuk, asu, tai, fuck, shit pada setiap teriakan. Kali ini aku membisikkan namamu, seolah aku sedang berbisik merayu pada telinga kirimu, dan merasakan ketenangan yang hampa. Dan aku ketakutan. Lalu aku sadar bahwa kali ini aku siap menangis lagi—menangisimu—dan membiarkan senja yang berkarat melaju menuju kelam di barat.


Sunday, 7 February 2016

Maukah Kau Pacaran Selamanya Denganku?

Aku mudah bosan, dengan semua hal. Makanya, tak heran aku keluar dari pekerjaanku yang terakhir bahkan sebelum enam bulan. Meskipun, semua orang menyayangkan. Aku bosan. Bahkan melakukan hobiku pun kadang aku bosan.

Aku cinta membaca, tapi ketika bosan, tulisan-tulisan itu bagaikan kutu-kutu yang siap menghisap darahku. Aku suka menulis, tapi kadang tangan ini seperti kram. Menonton film ketika sudah bosan pun seperti hanya melihat kumpulan gambar saja tanpa makna.

Aku bosan, pembosan, bahkan mungkin kadang bosan dengan diriku sendiri. Aku bisa bosan tidur ketika ngantuk. Aku pernah bosan makan ketika lapar. Sekali waktu aku juga bosan mandi ketika badan lengket oleh keringat dan daki.

Namun, entahlah, pacaran denganmu tak mengenal kata bosan. Aku sudah pacaran setiap hari selama setahun denganmu, dan masih saja selalu ingin pacaran denganmu setiap hari selama seratus tahun ke depan. Kenapa bisa begini? Bisakah kau jelaskan?

Atau barangkali kau punya anti-virus untuk rasa bosanku? Atau mungkin suaramu memang terbuat dari adonan super anti-bosan? Ataukah wajahmu itu yang mujarab?

Entahlah, sayangku…. Aku tak menemukan jawaban. Bahkan mungkin kau pun tak bisa menjawab. Namun, maukah kau pacaran selamanya denganku?


Renungan Satu Tahun Bersamamu….

Surabaya, Mei 2012


Fragment #1

Boy: Where we going?

Girl: Top floor of this building.

Boy: What for?

Girl: Praying.

Boy: But I'm not praying.

Girl: What you mean? You said you're a Muslim.

Boy: Yes. But I'm not praying today. I'm wearing shoes.

Girl: So?

Boy: I am too lazy to take off my shoes.

Girl: What? You don't pray just because you're too lazy to take off your shoes?

Boy: I'm going to mall to hang out, not to pray. That's why I'm wearing shoes.

Girl: Nonsense!

(The boy pushes the girl to the wall.)

Boy: Hey! You're really like my father.

Girl: But you have to pray.

(The boy brings his face closer to hers.)

Boy: Look. I'm still young. I don't need to pray.

Girl: What??!!

(The boy brings his face even closer to hers.)

Girl: Hey, don't do that. It's mall. Everyone is looking at us. Please behave and respect us here.

Boy: Okay, okay, okay. Don't be angry. I will give you time to pray but don't be too long. I will wait outside and watch out your shoes just in case someone steals them.

Girl: What? Noone is here to steal shoes!


----

#fragment



Tuesday, 2 February 2016

It's Scary to Know How Traceable We Are in Cyberspace

Kalau ada yang tanya kenapa aku sangat takut menggunakan media sosial atau apapun yang berhubungan dengan dunia maya, jawabannya satu: aku takut 'ditemukan'.

Bayangkan ada orang yang stalking kalian dan tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depan rumah kalian hanya karena memperoleh data kalian dari akun instagram misalnya. That's super scary.

Level keterlacakan masing-masing orang memang berbeda-beda. Namun, the scary fact about Internet is that once you publish something, it will forever belong to the world. Yah, status di twitter memang bisa dihapus sama yang punya akun. Tapi kalau ada yang screen-capture, gimana? Bahkan ada kasus status di Path yang di-capture sukses bikin si empunya akun di-bully habis-habisan di medsos.

Ketika bicara tentang medsos, lagi-lagi kita harus hati-hati untuk memasukkan data-data yang sifatnya personal. Aku saja sampai sekarang tidak punya akun LinkedIn, karena menurutku social network satu ini benar-benar menjabarkan secara detail mengenai kita, seperti riwayat pendidikan dan riwayat pekerjaan, dan siapapun bisa melihat akun kita.

Banyak sih yang bilang aku parno. Mungkin memang iya. Sebenarnya ke-parno-an ini juga didasarkan pada fakta bahwa aku sendirilah yang sebenarnya suka stalking orang melalui dunia maya. Dan kebanyakan berhasil. Maka dari itu, aku berpikir jika aku saja bisa menemukan data orang dengan sebegitu mudahnya melalui internet, tentu orang itu—dan orang-orang lain di dunia ini—juga bisa dengan semudah itu melakukan hal yang sama terhadapku. And that scares the hell out of me.

Nah, mungkin ada baiknya mulai sekarang kita memikirkan tentang traceability atau keterlacakan kita, khususnya di dunia maya.


Pilihan Nama Untuk Anakku Nanti

Warning: Tulisan yang satu ini super geje (melebihi tulisan-tulisan yang lain).

Meskipun belum merencanakan untuk mempunyai anak dalam waktu dekat, aku sudah mempersiapkan beberapa pilihan nama untuk anakku nanti. Kalau tidak salah ingat, aku sudah mulai memikirkan nama anak ketika masih duduk di bangku SMPyang pada saat itu ditertawakan oleh beberapa teman lelakiku karena saat aku bahkan tidak punya pacar.

Aku sebenarnya terinspirasi oleh kakakku. Dia telah memiliki satu nama yang dia sukai ketika masih kecil. Nama itu diambil dari salah satu figur publik yang menurut dia ganteng (pada eranya). Dan ketika dia menikah kemudian melahirkan anak pertamanya (dan seorang lelaki pula), dia sangat bahagia karena bisa menggunakan nama itu untuk menamai anaknya. Dan menurutku, that's wonderful.

Karena kisah inilah, sejak SMP aku sudah suka mencari-cari nama yang kemungkinan akan kugunakan untuk nama anakku kelak.

Dalam tulisan kali ini, aku akan mencoba menganalisa nama-nama yang sudah kupilih. Analisa ini dibuat berdasarkan kelebihan dan kekurangannya untuk bahan pertimbangan sebelum aku menentukan nama yang benar-benar tepat untuk anakku nanti.

Pilihan nama untuk anak cowok:

1. ELANG

Kelebihan: Nama ini terdengar keren dan macho. Elang banyak digunakan untuk lambang dari berbagai negara di dunia. Elang menyimbolkan keperkasaan dan kebebasan. Selain itu, elang juga memiliki mata yang tajam. Elang mengajarkan kita untuk menggunakan energi yang kita miliki untuk hal-hal positif (e.g mencari makan :D )

Kekurangan: Kalau dilihat-lihat, elang itu mengerikan juga ya. Atau lebih tepatnya mistis?

2. UMAR

Kelebihan: Umar adalah nama salah satu sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Tapi sebenarnya bukan hal itu yang membuat aku tertarik. Nama 'Umar' terasa nyaman diucapkan. Kesannya juga gagah. Nama ini diambil dari bahasa Arab 'umr' yang berarti kehidupan.

Kekurangan: Nama ini muncul baru-baru saja sebagai kandidat nama anakku. Terlalu mendadak. Gara-garanya, waktu itu ada orang di TV bernama Umar dan dia cakep. :D

3. SUDYAWIRAT

Kelebihan: Nama ini unik, sepertinya berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) atau mungkin juga Sansekerta.

Kekurangan: Sampai saat ini aku masih belum menemukan artinya. Aku dapat inspirasi nama ini dari salah satu sinetron kolosal. Angling Dharma, kalau tak salah ingat.

4. KARNA

Kelebihan: Karna adalah tokoh wayang yang sangat keren, yang mempunyai semua kualitas yang ada di Pandawa. Dia adalah salah satu prajurit terhebat di Mahabarata. Nama Soekarno pun diambil dari nama Karna.

Kekurangan: Aku sedikit bingung; enaknya pakai spelling Indonesia (Karna) atau Jawa (Karno)?

5. PALGUNADI

Kelebihan: Dalam cerita pewayangan, Palgunadi digambarkan sebagai seorang pemanah ulung, yang rajin dan bertekad kuat. Nama ini juga terdengar macho.

Kekurangan: Sayangnya, banyak juga orang yang memakai nama ini, salah satunya adalah mantan teman sekantorku. Jadi, agak sedikit gimana gitu jika harus menggunakan nama itu. Selain itu, aku juga bingung nanti anakku mau dipanggil apa: Pal, Gun, Adi???

6. ALI

Kelebihan: Mantan bosku mempunyai adik bernama Ali. Ali ini mempunyai keahlian meramu jamu herbal untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Meskipun tidak pernah bertemu langsung, saat itu aku sangat kagum dengan orang ini dan namanya ingin aku pakai juga sebagai nama anakku nanti.

Kekurangan: Adik mantan bosku itu pada akhirnya menjadi atasan suamiku. Jadi agak aneh ya kalau suamiku punya atasan dan anak dengan nama yang sama.

7. PRAMUDYA

Kelebihan: Diambil dari nama Pramoedya Ananta Toer, penulis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Harapannya, semoga anakku bisa menjadi penulis sekeren beliau. Panggilan 'Pram' sepertinya juga terdengar sangat seksi.

Kekurangan: Sampai saat ini aku belum tahu artinya. Dan nama ini terdengar terlalu agung menurutku.

8. ARSHAD

Kelebihan: Nama ini memiliki arti yang bagus, yaitu jujur. Nama ini juga terdengar seksi jika diucapkan.

Kekurangan: Sayanganya, penulisannya agak susah, dan pengucapannya pun sepertinya agak ribet, bahkan untuk lidahku sendiri. Belum lagi kalau harus berurusan dengan pengucapan orang-orang desa yang sering salah.

9. WISANGGENI

Kelebihan: Dia adalah tokoh wayang asli ciptaan orang Jawa. Nama ini terdengar macho, dan memiliki arti 'bisa api'.


Kekurangan: Panggilannya apa ya? Wisa? Geni?


Pilihan nama untuk anak cewek:

1. DRUPADI

Kelebihan: Tokoh pewayangan yang sangat aku idolakan.

Kekurangan: Nasibnya kurang baik dan dia  memang memiliki beberapa sifat yang tidak baik juga sih. Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan nama ini. Dan sepertinya nama ini akan semakin populer mengingat telah ditayangkannya serial Mahabarata di ANTV... :(

2. NAHLA

Kelebihan: Nama ini terinspirasi dari surat An-Nahl ayat 68-69. Pokoknya, lebah punya banyak sifat yang baik.

Kekurangan: Panggilan satu-suku-katanya apa ya? Nah, Nahl, atau La??


NB: Bukan berarti nama yang ditulis paling atas memiliki kemungkinan lebih besar untuk dipilih. Bisa jadi nama-nama ini malah tidak ada yang dipilih.

NB 2: Dengan mem-posting tulisan ini tidak berarti bahwa aku ingin segera punya anak.