Dalam mencipta, kita akan meniru terlebih dahulu. Kita akan mengagumi seseorang, menyukai karyanya, dan menjiplaknya dalam karya kita. Kita sebenarnya tidak sepenuhnya menjiplak. Kita hanya meniru. Dan sesungguhnya pengimitasian adalah bentuk pembelajaran. Kita belajar untuk menemukan diri kita yang sesungguhnya. Dan dari jiplakan itu kita akan bisa mencipta karya yang benar-benar berbeda, karena kita tahu tak akan ada kue yang identik meski keluar dari cetakan yang sama: rasanya, ketebalannya, keempukannya, kegosongannya bisa berbeda, tergantung oven, bahan, dan pengalaman kokinya.
Kita akan memulai apapun dengan meniru karena sesungguhnya tak ada yang baru di dunia ini. Semua adalah tiruan, tapi tiruan yang dilengkapi, tiruan yang disempurnakan, tiruan yang beraksesori, tiruan yang termodifikasi. Dan hasilnya—seperti kataku tadi—adalah karya yang benar-benar lain, yang orisinil dari kita.
Dan aku memulai hidupku dengan menjiplakmu, menirumu, yang tentu saja tanpa kau sadari. Aku meniru cara berjalanmu, aku meng-copy gaya bicaramu, aku melakukan kesukaanmu, dan aku belajar untuk membisai yang kau bisa.
Selamanya hanya itu yang tersisa dariku: PENIRUMU. Tak ada yang orisinil dalam diriku. Aku bahkan seolah telah menjadi duplikatmu kecuali fakta bahwa kau lelaki dan aku perempuan. Dan perasaanmu yang datar padaku tak bisa pula kutiru, tapi kuganti dengan rasa sayang yang tulus.
Namun, meskipun begitu, aku tetap adalah tiruanmu. Aku mencoba menambahkan gaya yang tak sama, model yang berbeda, citarasa yang kudapat dari sosok lain, tapi tetap saja aku adalah penirumu yang sejati, dan karya yang tercipta adalah sepenuhnya imitasi.
Aku ingin mencipta karyaku sendiri tanpa campurtangan bayang-bayangmu, tapi yang kemudian tercipta tak lebih dari seonggok onggokan yang teronggok. Hingga akhirnya aku putuskan untuk terus menirumu, terus berada dalam bayang-bayangmu. Dan aku berjanji akan menjadi imitator yang luarbiasa, yang membuat dirimu bahkan terkesima. Dunia tak perlu kubuat terkesima, cukup kau.
Aku, yang kini tengah belajar mengumpat ala-mu, berjanji akan terus menirumu, akan terus mengagumimu, dan mencuri setiap carik inspirasi untuk kutambalkan pada karyaku yang hampir jadi. Dan sepenuhnya aku kemudian akan terlahir sebagai imitatormu yang mahaistimewa. Dan kau pun pada akhirnya akan lupa mana kau mana aku.
Surabaya
No comments:
Post a Comment