Kalau ada yang tanya kenapa aku sangat takut menggunakan media sosial atau apapun yang berhubungan dengan dunia maya, jawabannya satu: aku takut 'ditemukan'.
Bayangkan ada orang yang stalking kalian dan tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depan rumah kalian hanya karena memperoleh data kalian dari akun instagram misalnya. That's super scary.
Level keterlacakan masing-masing orang memang berbeda-beda. Namun, the scary fact about Internet is that once you publish something, it will forever belong to the world. Yah, status di twitter memang bisa dihapus sama yang punya akun. Tapi kalau ada yang screen-capture, gimana? Bahkan ada kasus status di Path yang di-capture sukses bikin si empunya akun di-bully habis-habisan di medsos.
Ketika bicara tentang medsos, lagi-lagi kita harus hati-hati untuk memasukkan data-data yang sifatnya personal. Aku saja sampai sekarang tidak punya akun LinkedIn, karena menurutku social network satu ini benar-benar menjabarkan secara detail mengenai kita, seperti riwayat pendidikan dan riwayat pekerjaan, dan siapapun bisa melihat akun kita.
Banyak sih yang bilang aku parno. Mungkin memang iya. Sebenarnya ke-parno-an ini juga didasarkan pada fakta bahwa aku sendirilah yang sebenarnya suka stalking orang melalui dunia maya. Dan kebanyakan berhasil. Maka dari itu, aku berpikir jika aku saja bisa menemukan data orang dengan sebegitu mudahnya melalui internet, tentu orang itu—dan orang-orang lain di dunia ini—juga bisa dengan semudah itu melakukan hal yang sama terhadapku. And that scares the hell out of me.
Nah, mungkin ada baiknya mulai sekarang kita memikirkan tentang traceability atau keterlacakan kita, khususnya di dunia maya.
No comments:
Post a Comment