Friday, 25 March 2016

Lirih....

Aku ingin membisikkan

Lirih demi lirih suara yang tak terdengar

Pada telingamu, Sayang


Thursday, 24 March 2016

Fragment #4

Boy: Hey, I'm so happy today.

Girl: Oh ya? What happened?

Boy: I had a surgery on a boy with a brain tumor and he survived it.

Girl: Good job, Mr. Surgeon. Thank God the boy survives.

Boy: I dunno which gods you mean, but the success of the surgery was due to the technology used and the surgeon and nurses and doctors contributing there. You can still thank your god anyway, but I'm not sure if your god was there or not.

Girl: Wowowowowow.... Is that what you think, Mr. Atheist?

Boy: Yes, exactly.

Girl: So, it means that you really don't believe in God?

Boy: I dunno. It's just that the surgery doesn't have anything to do with god. You should have thanked me, instead of god.


----

#fragment


Wednesday, 23 March 2016

Why Do You Wear Veil?

A classic question that I do not always have the guts to answer honestly: 'Why do you wear veil?'

Well, yes, though I am not really devoted to it (and though maybe many people don't even consider what I wear veil), I can be called 'a lady with veil' cause I wear it in most of the public spaces.

The reasons to wear veil can vary among women. They might merely say 'I got the calling from God' or 'I feel calmed and relieved when I am wearing it'. Some others might say that it is what the religion (or God) wants them to do. Some say that they do it because their parents want it.

While for me, my reason is a bit cheesy. I wear veil for the goodness of men. Once in my life, an important man in my faculty said that even the Quran recitation of the most pious men can be disturbed (without they wanting it) when they see the glimpse of a woman's hair or other particular parts of the body. This is quite a whip for me.

Well, I can say that I wear veil because I don't want to foil a man's Quran recitation by letting them see my hair (which I don't know is quite tempting or not), my cleavage (which I sure will show if I don't wear veil), my neck (which I am sure is one of the sexiest parts of my body), my thighs (which I sure will show by wearing hot pants if I don't wear veil), and my back (which I sure will show by sometimes wearing a backless dress if I don't wear veil).

Though I am not as perfect as my religion expects me to be, what I am doing is enough to save a man from failing his Quran recitation.

Well, that is the most honest reason I can tell you. Like it or not, it is what it is.


NB: Hopefully, I can say that I am now preparing myself for a bigger Hijra.


Thursday, 17 March 2016

Angin

Pada angin yang menjentik perih,

Pada maruta yang mengkasai luka,

Pada prahara yang mengabrik pilu,

Pada pawana yang menderma ria,

Pada riwut yang memercik murka,

Pada braja yang mengapii rindu,

Pada sindhung yang menggulai maja,

Pada samirana yang menggelorakan b'rahi,

Pada hawa yang memanjai indera,

Pada bayu yang mematri bathin,

Aku rela menjadi wanodya yang kau pangku, puja..

Atau gini yang kau sanjung, puji..

Atau dayinta yang kau jelma saat hari membuta..

Atau rini yang kau khayali saat hari memagi..


Tuesday, 15 March 2016

Fragment #3

Girl: What are you doing today?

Boy: Having discussion with some of my students.

Girl: Students?

Boy: Yes, I'm teaching.

Girl: What do you do? Why are you teaching?

Boy: As far as I can remember, I've told you once about my job.

Girl: Yes, you said you work in public health.

Boy: Yes, that's right and teaching is part of my job.

Girl: So.... what is your job?

Boy: I'm healing wounds.

(Pause)

Girl: Are you a.....surgeon?

Boy: Ah you smart girl.

(Pause)

Girl: Hmm... you say your job is to heal wounds, right?

Boy: Yes, why?

Girl: If you can heal other people's wounds, why can't you heal the wound that's on your heart?

Boy: Oh please. Can we stop talking about this?


----

#fragment


Monday, 14 March 2016

Fragment #2

Boy: So you're a Javanese?

Girl: Yes, I'm a Javanese.

Boy: But you're a Muslim?

Girl: Yes, why?

Boy: Well, I thought that Javanese people are Hindus.

Girl: Haha. I think you don't read much. Well, maybe you need to buy a 'new' book and read it.


Girl: (are you coming from jaman baheula?)


----

#fragment


Seperti Drupadi

Apakah aku harus bersemedi untuk bisa melupakanmu?

Seperti Drupadi yang harus bersemedi setelah setahun bersama suami tergilir untuk kemudian bisa bersama dengan suami tergilir berikutnya?

Apakah hati harus seterpermainkan itu oleh memori?


Friday, 4 March 2016

Rindu Mengaduh

Kadang seperti teracuh,

tersiksa oleh rindu yang mengaduh...


Surabaya, entah kapan


Rasanya Memiliki Gigi Berantakan

Seandainya kalian tahu, di Indonesia ini ada sekitar 80% orang yang memiliki gigi yang susunannya tidak normal, antara lain gigi berantakan, gigi tongos, gigi kelinci, gigi gingsul, gigi cameh, dan masih banyak lagi jenisnya. Dalam hal ini, aku termasuk memiliki gigi yang berantakan dengan dua gigi depan yang besar (gigi kelinci) dan agak menjorok ke depan dan dua gigi taring atas yang juga agak menjorok ke depan. Pokoknya, berantakan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang kualami sebagai pemilik gigi berantakan, yang mungkin juga kalian alami.

1. Ibu dan beberapa saudara selalu mengingatkanku sejak kecil untuk memakai behel.

Yah, ibu memang orang yang merasa bahwa anaknya harus sempurna. Beberapa kali dia memintaku pergi ke dokter gigi untuk memasang kawat. Tapi saat itu dokter gigiku bilang “Nggak apa-apa Bu, nanti pas besar juga akan membaik dengan sendirinya.” Dan ketika aku beranjak dewasa ternyata gigiku masih sama, ibu terus saja bilang “Nggak pengen pake kawat?”

2. Waktu SD, teman-teman cowokku suka bilang aku ‘suka pamer gigi’.

Yah, aku memang sering mendapat bullying seperti ini. Hal ini karena ketika aku tersenyum, gigi depanku yang besar akan langsung terlihat. Pada waktu itu, aku sangat terganggu. Tapi sekarang, jika ada orang yang mem-bully gigiku, aku akan sangat santai menghadapinya karena aku sudah kebal. Kalian pun mungkin sering mengalami bullying seperti ini juga kan?

3. Ketika ke dokter gigi, aku hampir selalu ditawari untuk memakai behel atau mencoba jenis perawatan gigi lainnya.

Beberapa dokter gigi yang kutemui saat aku beranjak dewasa selalu menyarankanku untuk memakai kawat gigi. Ada juga beberapa penemuan modern yang ditawarkan kepadaku. Tapi aku memang tidak tertarik. Yah, lebih-lebih memang karena harganya yang sangat mahal.

4. Beberapa teman mengatakan “Ih, Rita punya gigi taring’.

Ketika aku tersenyum, gigi taringku memang akan terlihat jelas, dan menurut mereka aku seharusnya tidak memiliki taring. Padahal sebagai makluk omnivora, gigi manusia memang dilengkapi dengan taring juga untuk makan daging kan? Ah, ilmu biologi mereka jelas sangat buruk.

5. Ketika memakai lipstick, aku harus sering-sering melihat cermin, siapa tahu lipstick-nya menempel di gigi.

Karena gigi depanku yang agak menjorok, seringkali lipstick yang kupakai menempel di gigi. Jadinya, aku harus sering-sering mengeceknya di cermin.

6. Di beberapa kesempatan, khususnya di masa laluku, aku selalu merasa kesulitan ketika harus tersenyum karena merasa senyumku itu akan merusak penampilanku.

Aku selalu merasa senyumku tak manis. Setelah melewati beberapa tahap pertumbuhan, aku sadar bahwa yang dibutuhkan hanyalah rasa percaya diri dan latihan agar bisa tersenyum dengan penuh percaya diri. Kalian tak perlu tersenyum terlalu lebar. Cukup perlihatkan sedikit gigi di balik bibirmu yang tersenyum, dan kalian akan tampak misterius sekaligus percaya diri.

7. Momen ketika harus tertawa juga menimbulkan ketakutan tersendiri.

Sayangnya adalah sebenarnya aku termasuk orang yang suka tertawa dan gampang tertawa. Tapi pada saat yang sama, aku sering merasa harus menangkupkan telapak tangan ke mulut karena tak ingin terlihat aneh. Padahal, ini salah lho karena dengan membawa telapak tangan ke arah mulut, perhatian orang justru akan terbawa ke arah mulut kan?

8. Di masa mudaku, aku hampir tak pernah tersenyum ketika difoto. Ataupun kalau tersenyum, aku akan memilih tersenyum tanpa menunjukkan gigi.

Sama halnya dengan tersenyum di kehidupan nyata, aku pun dulunya tak mau tersenyum saat difoto. Namun, sekali lagi, seiring dengan pertumbuhanku, aku mulai belajar menemukan signature smile, yaitu pose senyum yang paling enak dilihat menurutku. Bahkan mereka yang memiliki gigi rapi pun pasti juga memiliki signature smile. Dan sekarang, bisa kukatakan, aku sudah bisa tersenyum dengan memperlihatkan gigi ketika difoto.

9. Yang paling menyebalkan adalah jika ada yang melakukan foto candid kepadaku.

Well, candid yang bagus biasanya adalah candid yang disengaja atau candid yang dilakukan terhadap selebritis yang memang tahu bahwa setiap saat mereka dikuntit kamera. Hanya saja, jika yang di-candid itu aku, aku merasa bahwa mungkin saja aku sedang berpose yang kurang pas dan gigiku akan membuat tampilanku menjadi aneh.

9. Menutup kedua bibir rapat-rapat adalah hal yang tak bisa kulakukan dengan mudah dan nyaman.

Aku perlu melakukan sedikit effort untuk bisa menutup mulut rapat-rapat. Ya, tahu sendirilah, mulut kita didesain untuk gigi yang rapi kan?

10. Aku selalu senang ketika mengetahui ada selebritis atau figur publik lainnya dengan gigi yang berantakan.

Pasti perasaan seperti ini juga pernah kalian rasakan. Walaupun mungkin kalian tidak secantik atau setampan selebritis itu, fakta bahwa mereka memiliki gigi berantakan saja sudah membuat kalian lega pastinya. Aku pun juga merasa demikian.

11. Sering merasa self-conscious ketika orang melihat ke bagian bawah wajahku dan bertanya-tanya apakah dia sedang melihat bibirku, pipiku, atau gigiku, atau mungkin hal yang lain lagi.

Ketika aku berbicara dengan seorang cowok dan dia melihat ke bagian bawah wajahku, aku selalu khawatir bahwa dia tengah mengamati gigiku. Padahal, mungkin sebenarnya tidak demikian. Beberapa orang yang pernah kukenal mengatakan bahwa mereka melihat bibirku, bukan gigiku, karena ingin menciumnya. Jadi, ingatlah, di luar gigi yang berantakan itu kalian masih punya bibir seksi yang mungkin kissable bagi sebagian orang.

Dan di antara semua perjuangan itu, ada beberapa hal yang membuatku senang memiliki gigi berantakan seperti ini:

1. Entah bagaimana, gigi yang berantakan membuatmu terlihat lebih manis.

Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa gigikulah yang membuat aku manis dan aku yakin mereka tidak sedang mengolokku. Ada adik kakak iparku yang dulunya terlihat begitu manis dengan gigi atasnya yang sedikit tongos. Ketika masuk kuliah, dia memakai behel dan begitu behelnya dicopot, aku merasa dia sudah tak semanis dulu lagi. Ya, bagi kalian yang kepikiran ingin memakai behel, mungkin bisa mengingat-ingat poin ini.

2. Aku nggak sendirian.

Di Indonesia saja, ada 80% orang yang giginya berantakan. Jadi, kalian punya banyak teman. Buat apa minder? Bahkan selebritis saja juga ada kan yang giginya berantakan? Dan tahu nggak kalau Inggris dikenal oleh masyarakat Amerika sebagai negara dengan penduduk yang memiliki bad teeth?

3. Bentuk gigi yang menjorok membuat kontur dan bentuk bibirmu lebih menarik.

Percaya atau tidak, orang-orang bergigi berantakan yang kutemui memiliki bibir yang seksi. Ketika mereka melakukan effort yang lebih untuk menutup mulut, menurutku mereka terlihat lebih menarik. Hal inilah yang juga hilang dari adik kakak iparku yang kusebutkan di atas.

4. Kalian bisa mengeksplorasinya asal tahu caranya

Aku sering browsing untuk mengetahui bagaimana cara tersenyum selebritis yang memiliki gigi berantakan. Dari situ, kalian pasti akan mempunyai banyak masukan. Dan kemudian nantinya kalian akan bisa mengeksplorasi cara tersenyum, cara bicara, atau cara tersenyum ketika difoto. Hal ini memang memerlukan waktu. Aku pun sampai detik ini merasa masih harus terus berlatih. Tapi yang jelas, gigi berantakan itu unik, dan jika tahu caranya serta racikan yang pas, kalian bisa mengeksplorasinya untuk menciptakan suatu ciri khas yang keren.

Nah, buat kalian semua yang merasa tidak PD karena memiliki gigi berantakan, coba renungkan rincian pengalaman di atas. Kalau perlu, tuliskan pengalaman-pengalaman kalian sendiri dan pikirkan apa yang membuat kalian menyukai gigi kalian, seperti apapun bentuknya.

Bagi kalian yang merasa tidak PD, dan mencoba mencari bantuan dengan menggunakan behel atau perawatan lainnya, aku merasa itu adalah hak masing-masing individu. Dan aku selalu mendukung hal tersebut karena itu bukan suatu hal yang terlarang. Apalagi jika gigi berantakan itu mengganggu kesehatanmu.

Jadi, baik kalian mau pake behel dan perawatan lain atau memilih tetap dengan gigi kalian yang berantakan, kalian tetap keren kok!