Aku selalu menyebutnya karat. Ya, alam yang berkarat. Ketika siang menguning menuju senja, pada saat itulah alam berkarat. Seperti buah apel teriris yang dibiarkan di udara terbuka, seperti itulah senja: berkarat pada kemuliannya sendiri.
Senja yang berkarat inilah yang selalu mengantarku pada gerbang kegelisahan. Aku takut jika ketika karat itu hilang tergantikan kekelabuan kemudian kehitaman yang pekat, wajahmu akan hadir lagi, dan rindu itu akan memaksaku untuk menangis. Dan aku masih saja menangisimu atas semua memori yang pernah tercipta.
Kau lelakiku yang terukir pada pasir pantai, yang siap tergerus gelombang, lalu hilang, hanyut terseret arus. Kau lelakiku yang pamit tanpa pernah benar-benar mampir untuk menghirup kopi pahit buatanku. Kau lelakiku yang menawarkan pelukan, belaian, dan ciuman mesra tapi yang lalu kabur di saat aku masih menginginkannya. Kau lelakiku yang mungkin tak pernah tahu betapa dalam rasa yang tercipta dari ‘cangkruk’ yang singkat itu.
Dan aku meneriakkan namamu pada senja yang berkarat, menambahkan kata-kata seperti anjing, gila, mampus, jancuk, asu, tai, fuck, shit pada setiap teriakan. Namun, semuanya tak bisa mengubah fakta bahwa kau adalah lelaki yang sangat manis, dan terlalu manis untuk dilupakan meskipun kau meminta dengan sangat.
Dan aku masih menatap pada alam yang berkarat, tercenung oleh nuansa Ilahi yang tercipta dari penyebutan namamu, suatu kenikmatan yang tak terpertanyakan. Kali ini aku tidak berteriak dan tidak menambahkan kata-kata seperti anjing, gila, mampus, jancuk, asu, tai, fuck, shit pada setiap teriakan. Kali ini aku membisikkan namamu, seolah aku sedang berbisik merayu pada telinga kirimu, dan merasakan ketenangan yang hampa. Dan aku ketakutan. Lalu aku sadar bahwa kali ini aku siap menangis lagi—menangisimu—dan membiarkan senja yang berkarat melaju menuju kelam di barat.
Apik... dalem banget.
ReplyDeleteHahaha. Tengkyu tengkyu....
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete