Ada yang menggeliat dalam perutku, lalu kurasakan ratusan lebah keluar melewati vaginaku, mendesak keluar, menyisakan sengatan-sengatannya. Aku hidup dalam bayang-bayang.
Aku biarkan aroma-aroma surgawi yang tak terendus membelaiku dalam kemesraan yang tak ternilai, membuatku teringat akan sentuhan-sentuhan ragawi pada titik-titik yang strategis yang dilakukan olehmu, yang membuatku ingin terkencing saat itu karena kedinginan, tapi kau tak memeluk hanya membelai.
Aku mendesah dalam kesadaran penuh. Meratapi tiap erangan ajaibmu. Melenguh oleh keabsurdan bahasamu. Menggelinjang karena keperkasaan sosokmu.
Lebah-lebah semakin banyak mendesak keluar. Aku terjerembab di kasurku, menangisi kesendirian yang mubazir. Namun, masih terasa sensasi dari petualangan semalam dengan sosok tanpa tulang, tanpa bau, dan tanpa denyut. Masih terasa gerayangan penuh nafsu dari jiwa tak beraga. Masih terdengar bisikan penuh birahi dari suara tak bertuan. Masih terbayang wajahmu yang meminta, merayu, membujuk, menghamba, dan meronta, karena terlalu nikmatnya rasa yang kau kecap hingga tak ada kata yang bisa lagi kau ucap. Masih terdeteksi panas tubuhmu yang tak terderajatkan, yang menyisakan keringat di sekujur tubuhku.
Aku menggeliat; lebah-lebah telah keluar, meninggalkan sengatan-sengatannya... Dan aku tersenyum, terlelap dalam buaian kotor.
Heh..iki kotor lho. Kontradiktif sama without being sexual tadi. *seringai*
ReplyDeleteHmm, I dont think so....
DeleteThis comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete